Rabu, 10 Februari 2016

Kisah Tabi'in: Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq


Sudah sampaikah berita kepada Anda tentang tabi’in yang agung ini? Seorang pemuda yang terkumpul pada dirinya pujian dari segala sisi, tak satupun pujian luput darinya.
Ayahandanya beliau adalah Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, ibunya adalah putri Yazdajir, raja Persia yang terakhir. Sedangkan bibinya dari pihak ayah adalah Aisyah, Ummul Mukminin. Di samping itu, di atas kepalanya telah bertengger mahkota takwa dan ilmu. Adakah Anda masih mengira ada kemenangan yang lebih tinggi dari kemenangan yang semua orang bersaing dan berlomba mendapatkannya ini?
Dialah Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, satu dari tujuh fuqaha Madinah, yang paling utama ilmunya pada zamannya, paling tajam kecerdasan otaknya, dan paling bagus sifat wara’nya. Marilah kita buka lembaran hidupnya dari awal.
Al-Qasim bin Muhammad lahir pada akhir masa khilafah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak ini, badai fitnah semakin dahsyat menerpa kaum muslimin. Hingga mengakibatkan terbunuhnya khalifah yang zuhud, ahli ibadah, Dzun Nurain Utsman bin Affan sebagai syuhada, sedangkan Al-Quran berada dalam dekapannya.
Tak lama setelah itu muncul sengketa besar antara Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb, gubernur untuk wilayah Syam. Dalam rangkaian keadaan genting dan peristiwa-peristiwa yang mencekam itu, anak tersebut mendapati dirinya bersama adik perempuannya dibawa dari Madinah ke Mesir, menyusul kedua orang tuanya. Ayahnya diangkat menjadi gubernur Mesir oleh khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Di kota ini dia harus menyaksikan cakar-cakar fitnah mencengkeram makin jauh sampai akhirnya ayah beliau tewas dengan cara yang keji. Selanjutnya beliau pindah lagi dari Mesir kembali ke Madinah setelah kekuasaan dipegang oleh Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu. Kini dia yatim piatu. Al-Qasim bercerita tentang perjalanan hidupnya yang sarat dengan penderitaan itu:
“Setelah terbunuhnya ayah di Mesir, pamanku Abdurrahman datang untuk membawaku dan adik perempuanku ke Madinah. Setibanya di kota ini, bibiku, Ummul Mukminin, mengutus seseorang mengambil kami berdua untuk dibawa ke rumahnya dan dipelihara di bawah pengawasannya.
Ternyata belum pernah aku menjumpai seorang ibu dan ayah yang lebih baik dan lebih besar kasih sayangnya daripada beliau. Beliau menyuapi kami dengan tangannya, sedang beliau tidak makan bersama kami. Bila tersisa makanan kami barulah beliau memakannya. Beliau mengasihi kami seperti seorang ibu yang masih menyusui bayinya. Beliau memandikan kami, menyisir rambut kami, memberi pakaian-pakaian yang putih bersih. Beliau senantiasa mendorong kami, untuk berbuat baik dan melatih kami untuk itu dengan teladannya. Beliau melarang kami melakukan perbuatan jahat dan menyuruh kami meninggalkannya jauh-jauh. Beliau pula yang mengajar kami membaca Kitabullah dan meriwayatkan hadis-hadis yang bisa kami pahami. Di hari raya, bertambahlah kasih sayang dan hadiah-hadiahnya untuk kami. Di setiap senja di hari Arafah, beliau memotong rambutku, memandikan aku dan adik perempuanku. Pagi harinya kami diberi baju baru kemudian aku disuruh ke masjid untuk shalat Ied. Setelah selesai, aku dikumpulkan bersama adikku kemudian kami makan daging udhhiyah.
Suatu hari beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku didudukkan di pangkuannya yang satu sedang adikku di pangkuan yang lain. Paman Abdurrahman datang atas undangannya. Lalu bibi Aisyiah mulai berbicara, beliau mulai dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh aku belum pernah mendengar sebelum dan sesudahnya seorang pun baik laki-laki ataupun perempuan yang lebih fasih lisannya dan lebih bagus tutur katanya dari beliau. Beliau berkata kepada paman. “Wahai saudaraku, aku melihat sepertinya Anda menjauh dari saya sejak saya mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah saya melakukannya bukan karena lancang kepada Anda, bukan karena saya menaruh buruk sangka kepada Anda, dan bukan pula lantaran saya tidak percaya bahwa Anda dapat memenuhi hak keduanya. Hanya saja Anda memiliki istri lebih dari satu, sedangkan ketika itu kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri. Maka saya khawatir jika keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga saya merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada Anda.” Begitulah, akhirnya pamanku Abdurrahman memboyong kami ke rumahnya.
Hanya saja, hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut dengan rumah bibinya, Aisyah. Rindu terhadap lantai rumah yang bercampur dengan kesejukan nubuwat. Dia berkembang dan terpelihara oleh perawatan pemilik rumah itu, dia kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya antara rumah bibi dan rumah pamannya.
Rumah bibinya betul-betul berkesan di hatinya. Lingkungan yang sejuk itu menghidupkan sanubari selama hayatnya. Simaklah kesan-kesan yang melekat di hatinya:
“Suatu hari, aku berkata kepadaku bibiku, Aisyah: “Wahai ibu, tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua sahabatnya, aku ingin sekali melihatnya.”
Tiga kubur itu berada di dalamnya rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan. Beliau memperlihatkan untuk kami tiga buah makam yang tidak diunggukkan dan tidak pula dicekungkan. Ketiganya ditaburi kerikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid. Saya bertanya, “Yang mana makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menunjuk salah satu darinya: “Ini.” Bersamaan dengan itu, dua butir air mata bergulir di pipinya, tetapi segera di sekanya agar aku tak melihatnya. Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu agak lebih maju dari makam kedua sahabatnya.
Saya bertanya lagi, “Lalu yang mana makam kakekku, Abu Bakar?” Sambil menunjuk satu kubur beliau berkata, “Yang ini.” Kulihat makam kakekku sejajar dengan letak bahu Rasulullah. Aku berkata, “Yang ini makam Umar?” Beliau menjawab, “Benar.”
Menginjak remaja, cucu Abu Bakar ini telah hafal Kitabullah dan menimba hadis-hadis dari bibinya, Aisyah, sebanyak yang dikehendaki Allah. Dia tekun mendatangi al-Haram an-Nabawi dan dududk dalam halaqah-halaqah ilmu yang terhampar di setiap sudut-sudut masjid laksana bintang-bintang gemerlap yang bertaburan di langit yang terang.
Beliau menghadiri majlisnya Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Khabbab, Rafi’ bin Khudaij, Aslam pembantu Umar bin Khathab dan sebagainya. Hingga pada gilirannya beliau menjadi imam mujtahid dan menjelma menjadi manusia yang paling pandai dalam hal sunah pada zamannya.
Setelah sempurna perlengkapan ilmu pemuda yang merupakan cucu Abu Bakar ini, orang-orang banyak belajar kepadanya dengan penuh perhatian. Sementara beliau memberikan ilmunya tanpa pamrih atau jual mahal. Beliau tak pernah absen untuk pergi ke Masjid Nabawi setiap hari, lalu shalat dua rakaat tahiyatul masjid kemudian duduk di bekas tempat Umar radhiyallahu ‘anhu di Raudhah, yakni tempat antara kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mimbarnya. Selanjutnya berkumpullah murid-muridnya dari segala penjuru untuk menimba ilmu dari sumber yang segar dan bersih, melegakan jiwa-jiwa yang haus akan ilmu.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhrinya Al-Qasim bin Muhammad dan putra bibinya, Salim bin Abdullah bin Umar, menjadi dua imam Madinah yang terpercaya. Keduanya menjadi tokoh yang ditaati dan didengar tutur katanya kendati keduanya tidak memiliki wilayah jabatan ataupun kekuasaan. Masyarakat mengangkat keduanya karena sifat takwa dan wara’-nya. Juga karena pusaka yang berada di dalam dadanya berupa ilmu dan pemahamannya, ditambah lagi karena sifat zuhud-nya terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta berharap banyak terhadap apa-apa yang berada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Martabat keduanya mencapai puncaknya hingga khalifah-khalifah Bani Umayah dan para bawahannya hormat kepadanya. Penguasa-penguasa tersebut tidak pernah memutuskan suatu masalah yang pelik kecuali setelah mendengarkan pendapat kedua ulama tersebut.
Sebagai contoh, ketika Al-Walid bin Abdul Malik berkeinginan untuk memperluas Al-Haram An-Nabawi yang mulia. Rencana ini tidak bisa dilaksanakan tanpa membongkar masjid yang lama pada keempat arahnya dan menggusur rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk perluasan.
Persoalan ini rentan dengan perpecahan antara kaum muslimin dan menyakiti perasaan mereka. Mengingat hal ini, maka khalifah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, wali Madinah, yang isinya sebagai berikut:
“Saya memandang perlunya memperluas Masjid Nabawi Asy-Syarif sampai 200 hasta persegi. Untuk kebutuhan ini, keempat dindingnya perlu dirobohkan dan rumah istri-istri Nabi terpaksa kena perluasan. Selain itu rumah-rumah yang ada di sekitarnya perlu dibeli dan kiblatnya dimajukan kalau bisa. Anda mampu mewujudkan hal itu, mengingat kedudukan Anda di antara paman-paman Anda adalah keturunan Ibnul Khathab dan besarnya pengaruh mereka di masyarakat.
Jika penduduk Madinah menolaknya, Anda bisa minta bantuan pada Al-Qasim dan Salim bin Abdullah. Sertakan keduanya dalam rencana pemugaran dan perluasan ini. Jangan lupa bayarlah ganti rugi rumah-rumah rakyat dengan harga setinggi mungkin. Bagi Anda pahala yang baik seperti yang dilakukan Umar bin Khathab dan Utsman bin Affan.”
Dengan segera, gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz mengundang Al-Qasim bin Muhammad dan Salim bin Abdullah bin Umar dan para pemuka kaum muslimin Madinah. Kedpada mereka dibacakan surat perintah khalifah yang baru saja diterima. Ternyata mereka gembira dengan apa yang direncanakan oleh Amirul Mukminin dan siap sedia untuk mendukung rencana tersebut.
Di tempat lain, pasukan muslimin terus mendapatkan kemenangan gemilang. Mereka berhasil menjatuhkan benteng-benteng musuh di Konstantinopel dan merebut kota demi kota di bawah pimpinan komandan yang tangkas dan pemberani, Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan. Ini adalah awal terbukanya Konstantinopel.
Kaisar Romawi mendengar rencana pemugaran dan perluasan Masjid Nabawi, maka dia ingin menyenangkan dan mengambil hati Amirul Mukminin. Dikirimnya 100 kilogram emas murni disertai 100 arsitek dari Romawi dan membawa ubin-ubin marmer yang indah. Bantuan tersebut dikirimkan oleh Al-Walid kepada Umar bin Abdul Aziz. Wali Madinah ini baru mau memanfaatkannya setelah terlebih dahulu bermusyawarah dengan Al-Qasim bin Muhammad.
Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009
Sudah sampaikah berita kepada Anda tentang tabi’in yang agung ini? Seorang pemuda yang terkumpul pada dirinya pujian dari segala sisi, tak satupun pujian luput darinya.
Ayahandanya beliau adalah Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, ibunya adalah putri Yazdajir, raja Persia yang terakhir. Sedangkan bibinya dari pihak ayah adalah Aisyah, Ummul Mukminin. Di samping itu, di atas kepalanya telah bertengger mahkota takwa dan ilmu. Adakah Anda masih mengira ada kemenangan yang lebih tinggi dari kemenangan yang semua orang bersaing dan berlomba mendapatkannya ini?
Dialah Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, satu dari tujuh fuqaha Madinah, yang paling utama ilmunya pada zamannya, paling tajam kecerdasan otaknya, dan paling bagus sifat wara’nya. Marilah kita buka lembaran hidupnya dari awal.
Al-Qasim bin Muhammad lahir pada akhir masa khilafah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak ini, badai fitnah semakin dahsyat menerpa kaum muslimin. Hingga mengakibatkan terbunuhnya khalifah yang zuhud, ahli ibadah, Dzun Nurain Utsman bin Affan sebagai syuhada, sedangkan Al-Quran berada dalam dekapannya.
Tak lama setelah itu muncul sengketa besar antara Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb, gubernur untuk wilayah Syam. Dalam rangkaian keadaan genting dan peristiwa-peristiwa yang mencekam itu, anak tersebut mendapati dirinya bersama adik perempuannya dibawa dari Madinah ke Mesir, menyusul kedua orang tuanya. Ayahnya diangkat menjadi gubernur Mesir oleh khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Di kota ini dia harus menyaksikan cakar-cakar fitnah mencengkeram makin jauh sampai akhirnya ayah beliau tewas dengan cara yang keji. Selanjutnya beliau pindah lagi dari Mesir kembali ke Madinah setelah kekuasaan dipegang oleh Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu. Kini dia yatim piatu. Al-Qasim bercerita tentang perjalanan hidupnya yang sarat dengan penderitaan itu:
“Setelah terbunuhnya ayah di Mesir, pamanku Abdurrahman datang untuk membawaku dan adik perempuanku ke Madinah. Setibanya di kota ini, bibiku, Ummul Mukminin, mengutus seseorang mengambil kami berdua untuk dibawa ke rumahnya dan dipelihara di bawah pengawasannya.
Ternyata belum pernah aku menjumpai seorang ibu dan ayah yang lebih baik dan lebih besar kasih sayangnya daripada beliau. Beliau menyuapi kami dengan tangannya, sedang beliau tidak makan bersama kami. Bila tersisa makanan kami barulah beliau memakannya. Beliau mengasihi kami seperti seorang ibu yang masih menyusui bayinya. Beliau memandikan kami, menyisir rambut kami, memberi pakaian-pakaian yang putih bersih. Beliau senantiasa mendorong kami, untuk berbuat baik dan melatih kami untuk itu dengan teladannya. Beliau melarang kami melakukan perbuatan jahat dan menyuruh kami meninggalkannya jauh-jauh. Beliau pula yang mengajar kami membaca Kitabullah dan meriwayatkan hadis-hadis yang bisa kami pahami. Di hari raya, bertambahlah kasih sayang dan hadiah-hadiahnya untuk kami. Di setiap senja di hari Arafah, beliau memotong rambutku, memandikan aku dan adik perempuanku. Pagi harinya kami diberi baju baru kemudian aku disuruh ke masjid untuk shalat Ied. Setelah selesai, aku dikumpulkan bersama adikku kemudian kami makan daging udhhiyah.
Suatu hari beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku didudukkan di pangkuannya yang satu sedang adikku di pangkuan yang lain. Paman Abdurrahman datang atas undangannya. Lalu bibi Aisyiah mulai berbicara, beliau mulai dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh aku belum pernah mendengar sebelum dan sesudahnya seorang pun baik laki-laki ataupun perempuan yang lebih fasih lisannya dan lebih bagus tutur katanya dari beliau. Beliau berkata kepada paman. “Wahai saudaraku, aku melihat sepertinya Anda menjauh dari saya sejak saya mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah saya melakukannya bukan karena lancang kepada Anda, bukan karena saya menaruh buruk sangka kepada Anda, dan bukan pula lantaran saya tidak percaya bahwa Anda dapat memenuhi hak keduanya. Hanya saja Anda memiliki istri lebih dari satu, sedangkan ketika itu kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri. Maka saya khawatir jika keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga saya merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada Anda.” Begitulah, akhirnya pamanku Abdurrahman memboyong kami ke rumahnya.
Hanya saja, hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut dengan rumah bibinya, Aisyah. Rindu terhadap lantai rumah yang bercampur dengan kesejukan nubuwat. Dia berkembang dan terpelihara oleh perawatan pemilik rumah itu, dia kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya antara rumah bibi dan rumah pamannya.
Rumah bibinya betul-betul berkesan di hatinya. Lingkungan yang sejuk itu menghidupkan sanubari selama hayatnya. Simaklah kesan-kesan yang melekat di hatinya:
“Suatu hari, aku berkata kepadaku bibiku, Aisyah: “Wahai ibu, tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua sahabatnya, aku ingin sekali melihatnya.”
Tiga kubur itu berada di dalamnya rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan. Beliau memperlihatkan untuk kami tiga buah makam yang tidak diunggukkan dan tidak pula dicekungkan. Ketiganya ditaburi kerikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid. Saya bertanya, “Yang mana makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menunjuk salah satu darinya: “Ini.” Bersamaan dengan itu, dua butir air mata bergulir di pipinya, tetapi segera di sekanya agar aku tak melihatnya. Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu agak lebih maju dari makam kedua sahabatnya.
Saya bertanya lagi, “Lalu yang mana makam kakekku, Abu Bakar?” Sambil menunjuk satu kubur beliau berkata, “Yang ini.” Kulihat makam kakekku sejajar dengan letak bahu Rasulullah. Aku berkata, “Yang ini makam Umar?” Beliau menjawab, “Benar.”
Menginjak remaja, cucu Abu Bakar ini telah hafal Kitabullah dan menimba hadis-hadis dari bibinya, Aisyah, sebanyak yang dikehendaki Allah. Dia tekun mendatangi al-Haram an-Nabawi dan dududk dalam halaqah-halaqah ilmu yang terhampar di setiap sudut-sudut masjid laksana bintang-bintang gemerlap yang bertaburan di langit yang terang.
Beliau menghadiri majlisnya Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Khabbab, Rafi’ bin Khudaij, Aslam pembantu Umar bin Khathab dan sebagainya. Hingga pada gilirannya beliau menjadi imam mujtahid dan menjelma menjadi manusia yang paling pandai dalam hal sunah pada zamannya.
Setelah sempurna perlengkapan ilmu pemuda yang merupakan cucu Abu Bakar ini, orang-orang banyak belajar kepadanya dengan penuh perhatian. Sementara beliau memberikan ilmunya tanpa pamrih atau jual mahal. Beliau tak pernah absen untuk pergi ke Masjid Nabawi setiap hari, lalu shalat dua rakaat tahiyatul masjid kemudian duduk di bekas tempat Umar radhiyallahu ‘anhu di Raudhah, yakni tempat antara kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mimbarnya. Selanjutnya berkumpullah murid-muridnya dari segala penjuru untuk menimba ilmu dari sumber yang segar dan bersih, melegakan jiwa-jiwa yang haus akan ilmu.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhrinya Al-Qasim bin Muhammad dan putra bibinya, Salim bin Abdullah bin Umar, menjadi dua imam Madinah yang terpercaya. Keduanya menjadi tokoh yang ditaati dan didengar tutur katanya kendati keduanya tidak memiliki wilayah jabatan ataupun kekuasaan. Masyarakat mengangkat keduanya karena sifat takwa dan wara’-nya. Juga karena pusaka yang berada di dalam dadanya berupa ilmu dan pemahamannya, ditambah lagi karena sifat zuhud-nya terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta berharap banyak terhadap apa-apa yang berada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Martabat keduanya mencapai puncaknya hingga khalifah-khalifah Bani Umayah dan para bawahannya hormat kepadanya. Penguasa-penguasa tersebut tidak pernah memutuskan suatu masalah yang pelik kecuali setelah mendengarkan pendapat kedua ulama tersebut.
Sebagai contoh, ketika Al-Walid bin Abdul Malik berkeinginan untuk memperluas Al-Haram An-Nabawi yang mulia. Rencana ini tidak bisa dilaksanakan tanpa membongkar masjid yang lama pada keempat arahnya dan menggusur rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk perluasan.
Persoalan ini rentan dengan perpecahan antara kaum muslimin dan menyakiti perasaan mereka. Mengingat hal ini, maka khalifah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, wali Madinah, yang isinya sebagai berikut:
“Saya memandang perlunya memperluas Masjid Nabawi Asy-Syarif sampai 200 hasta persegi. Untuk kebutuhan ini, keempat dindingnya perlu dirobohkan dan rumah istri-istri Nabi terpaksa kena perluasan. Selain itu rumah-rumah yang ada di sekitarnya perlu dibeli dan kiblatnya dimajukan kalau bisa. Anda mampu mewujudkan hal itu, mengingat kedudukan Anda di antara paman-paman Anda adalah keturunan Ibnul Khathab dan besarnya pengaruh mereka di masyarakat.
Jika penduduk Madinah menolaknya, Anda bisa minta bantuan pada Al-Qasim dan Salim bin Abdullah. Sertakan keduanya dalam rencana pemugaran dan perluasan ini. Jangan lupa bayarlah ganti rugi rumah-rumah rakyat dengan harga setinggi mungkin. Bagi Anda pahala yang baik seperti yang dilakukan Umar bin Khathab dan Utsman bin Affan.”
Dengan segera, gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz mengundang Al-Qasim bin Muhammad dan Salim bin Abdullah bin Umar dan para pemuka kaum muslimin Madinah. Kedpada mereka dibacakan surat perintah khalifah yang baru saja diterima. Ternyata mereka gembira dengan apa yang direncanakan oleh Amirul Mukminin dan siap sedia untuk mendukung rencana tersebut.
Di tempat lain, pasukan muslimin terus mendapatkan kemenangan gemilang. Mereka berhasil menjatuhkan benteng-benteng musuh di Konstantinopel dan merebut kota demi kota di bawah pimpinan komandan yang tangkas dan pemberani, Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan. Ini adalah awal terbukanya Konstantinopel.
Kaisar Romawi mendengar rencana pemugaran dan perluasan Masjid Nabawi, maka dia ingin menyenangkan dan mengambil hati Amirul Mukminin. Dikirimnya 100 kilogram emas murni disertai 100 arsitek dari Romawi dan membawa ubin-ubin marmer yang indah. Bantuan tersebut dikirimkan oleh Al-Walid kepada Umar bin Abdul Aziz. Wali Madinah ini baru mau memanfaatkannya setelah terlebih dahulu bermusyawarah dengan Al-Qasim bin Muhammad.
Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/kisah-tabiin-al-qasim-bin-muhammad-bin-abu-bakar-ash-shiddiq.html#sthash.TPkTyO75.dpuf

Syaikh Dr. Abdullah Azzam: Jihad bukan terorisme!

Ditulis oleh:
Syaikh Dr. Abdullah Azzam Rahimahullah
 

Segala puji hanya milik Allah Penguasa semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan semua sahabatnya yang mulia.
Amma ba’du:
Setiap kali kata “Jihad” disebut, maka orang-orang kafir tersentak marah dan gemetar karena kata ini. Setiap kali umat Islam berbicara tentang perlawanan untuk membela hak-hak mereka, maka media massa Barat berlomba-lomba untuk mendistorsi Islam. Mereka propagandakan jihad dengan gambaran kebengisan dan kekejaman. Mereka gambarkan setiap muslim yang jujur dan berjihad di jalan Allah sebagai manusia badui yang buas, penunggang unta yang serampangan, pengganas yang membabi buta, dan tidak peduli pada apapun. Mujahid adalah pembunuh yang menebas leher manusia hanya untuk memenuhi hasrat kecintaannya pada darah, yang mana ia tidak akan pernah puas kecuali dengan tumpukan tengkorak dan daging manusia.
Syaikh Abu Al-A’la Al-Maududi telah menulis dalam bukunya yang berjudul “Jihad Dalam Islam” [1] :
“Kata ‘Jihad’ dalam Bahasa Inggris diterjemahkan dengan ‘Holly War’ (Perang Suci), dan untuk waktu yang lama kata ‘Jihad’ telah disalah tafsirkan sehingga menjadi identik dengan gambaran yang keliru, yang dihiasi dan dihancurkan citranya dengan makna yang samar dan palsu. Demikianlah kini persepsi kata ‘Jihad’ terbentuk dalam benak orang-orang, Jihad direfleksikan oleh gambaran dari keganasan sifat, barbarisme dan gemar menumpahkan darah. Setiap kali orang-orang mendengar kata ‘Jihad’, maka yang tergambar dalam benak mereka adalah gambaran manusia yang sangat asing, sedang menenteng pedang, penuh amarah dan intoleran, matanya melotot tajam, berteriak lantang ‘Allahu Akbar!’, lalu menyerang siapa saja yang ada di hadapannya. Para seniman Barat telah memberikan gambaran ‘Jihad’ dengan sangat luar biasa, kemudian mereka tulis sebuah kalimat dengan huruf yang tebal: ‘Demikianlah sejarah umat Islam penuh dengan pertumpahan darah dan pembantaian atas orang-orang yang tak berdosa’.”
“Ironisnya Barat seakan sedang mengklaim bahwa mereka adalah yang paling suci, padahal tangan mereka bertanggung jawab dan berlumuran darah dalam ‘perang tidak suci’ selama berabad-abad di berbagai belahan bumi. Mereka adalah para perampok yang membawa berbagai persenjataan mematikan untuk menjalankan era perdagangan baru dan perampasan sumber daya alam serta aset berharga. Mereka menginvansi berbagai daratan dengan tujuan kolonialisme, dan merampas seluruh hasil tambang berharga, untuk menjadi sumber bahan bakar pabrik-pabrik atau pemberdaharaan kekayaan mereka. Sungguh sangat malang nasib berbagai negeri yang kaya sumber daya alam, para penduduk negeri-negeri tersebut telah mengalami berbagai pembantaian dahsyat, dan menyaksikan berbagai jenis penyiksaan yang dikukan oleh bangsa Barat. Anehnya, kini Barat sedang mensifati kaum muslimin dengan sifat buas dan hewani, sungguh tidak masuk akal!”
Tidak dapat dipungkiri bahwa diantara kaum muslimin terdapat para pengecut yang malah membenarkan bahwa diri mereka dan nenek moyang mereka adalah benar seperti apa yang dinyatakan oleh Barat tentang sejarah Islam. Sehingga mereka merasa minder dan malu dengan sejarah mereka yang diklaim telah banyak mengorbankan orang-orang tak berdosa.
Mungkin mereka lupa tentang perang 100 tahun, dan perang tujuh tahun yang terjadi antara Perancis dengan Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Mungkin mereka lupa tentang pemabantaian sadis umat Protestan oleh umat Katolik di gereja-gereja Eropa. Mungkin mereka juga lupa tentang pembantaian kaum Yahudi di seluruh Eropa oleh umat Kristen, padahal mereka berasal dari induk kitab yang sama.
Adapun fakta sejarah terbaru, Amerika yang dianggap sebagai pionir peradaban Barat adalah bangsa yang bertanggung jawab atas genosida dan pembantaian terhadap penduduk pribumi Indian. Para pribumi telah dimusnahkan dengan sadis dan disisakan sebagian saja dari mereka untuk ditempatkan di lokasi-lokasi wisata, atau mayat mereka diawetkan untuk berbagai pameran. Sampai saat ini penduduk pribumi Indian yang masih bertahan hidup berada dalam kesengseraan, padahal mereka adalah penduduk asli benua Amerika.
Mungkin sebagian anak-anak kaum muslimin telah lupa tentang dampak dua perang dunia yang dijalankan Barat selama satu abad terakhir. Dua perang tersebut telah menelan sekitar 50 juta korban jiwa, korban terluka dan yang lainnya ditawan. Hendaknya kaum muslimin bisa membayangkan bagaimana gerombolan para perampok dan pembunuh berkeliaran di muka bumi. Saat itu, pembantaian sadis, pemerkosaan dan penistaan atas kehormatan manusia terjadi dimana-mana.
Bagi anak-anak kaum muslimin yang tidak tahu bagaimana kelamnya sejarah Barat dan kaum salibis yang penuh dengan darah dalam membantai kaum muslimin, hendaknya mereka malu karena sesungguhnya sejarah Islam dipenuhi dengan kasih sayang Ilahi dan petunjuk bagi umat manusia. Lihatlah bagaimana Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berhasil menguasai seluruh Jazirah Arab sendirian di bawah panji tauhid, dan korban terbunuh dari musuh-musuh kafir tidak lebih dari 800 orang saja.
Untuk melihat sejarah kelam umat Nasrani mari kita lihat apa yang telah ditulis oleh Imam Ibnu Atsir mengenai usaha mereka menyerang Baitul Maqdis pada 15 Juli 1099 M, bertepatan dengan tahun 492 H:
“Orang-orang ditebas dengan pedang, kaum Frank (Eropa Barat) menghabiskan seminggu penuh di Baitul Maqdis untuk membunuh kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin ada yang berlindung di Mihrab Daud, dan mereka berperang selama tiga hari disana. Lalu kaum Frank menjamin keamanan bagi mereka, dan janji tersebut dipenuhi sehingga sebagian kaum muslimin tersebut berhasil keluar pada malam hari untuk menuju Asqalan. Kemudian pasukan Salib membantai lebih dari 70.000 kaum muslimin di Masjidil Aqsha, sebagian besar mereka adalah para imam, ulama, ahli ibadah, para Zahid, dan orang-orang yang tinggal di seputaran Al-Aqsha.” [2]
Raymond d’Agiles sejarawan Kristen berkata ia telah mengunjungi Al-Quds selama pembantaian mengerikan yang dilakukan oleh pasukan Salib. Ia kepayahan berjalan untuk mengarungi lautan mayat dan cabikan tubuh kaum muslimin, dan darah yang tergenang disana telah mencapai kedua betisnya.
Gustave Le Bon berkata [3]:
“Hal yang paling disukai Pasukan Salib untuk menghilangkan rasa bosan mereka adalah membantai anak-anak, kemudian memotong-motong kecil tubuh mereka”
Gustave Le Bon juga menyatakan bahwa puluhan ribu kaum muslimin telah disembelih di seputaran Masjid Umar (Dome of Rock).
Hendaknya kita tidak lupa bahwa kampanye-kampanye brutal yang digencarkan oleh para orientalis atas jihad telah menimbulkan dampak yang juga buruk bagi kalangan kaum muslimin. Mereka terpengaruh secara ruhiyah dan mentalitas akibat serangan yang bertubi-tubi oleh para oerientalis dan propagandis, serta dibawah tekanan kuat tatanan dunia modern hari ini. Bukan rahasia lagi kini kaum muslimin takut dan paranoid terhadap jihad serta sangat anti dan kontra terhadap perang fi sabilillah.
Majalah Al-A’lam Al-Islami yang berbahasa Inggris pernah menyatakan dalam sebuah artikelnya:
“Ada sebuah ketakutan dahsyat yang melanda dunia Barat, ketakutan itu disebabkan karena: Islam semenjak kemunculannya di Makkah tidak pernah melemah, bahkan Islam semakin bertambah dan meluas, dan Islam bukanlah sekedar ritual agama saja, melainkan sistem yang paripurna dan bahkan di antara rukun-rukunnya terdapat ‘Jihad’.”
Robert Ben berkata:
“Sesungguhnya umat Islam pernah memerangi seluruh belahan dunia di masalalu, dan mereka pasti akan melakukannya lagi untuk kali kedua.”
Wilfred Cantwell Smith berkata:
Sesungguhnya Eropa tidak akan bisa melupakan kepanikan yang telah terjadi dalam beberapa abad terakhir ketika Islam menyapu bersih Emperium Romawi di timur, barat dan selatan bumi.” [4]
Lawrence Brown telah berkata:
“Bahaya yang paling nyata terdapat dalam sistem hukum Islam, dan kemampuan Islam untuk memperluas dan menaklukkan wilayah. Kekuatan Islam adalah satu-satunya dinding penghalang untuk program kolonialisme yang dijalankan Eropa” [5]
Barat telah lama membuat persiapan untuk membunuh ruh jihad dari dada umat Islam. Oleh karena itulah mereka menggagas berbagai strategi dan agenda yang bertujuan untuk menggerogoti semangat jihad dari umat ini. Mereka hendak menghancurkan pilar aqidah Islam dan ibadah jihad melalui beberapa agenda:
  1. Menghidupkan Semangat Perang Salib
    Vasco Da Gama ketika tiba di Tanjung Harapan telah berkata: “Kini kita telah mencengkram leher Islam, dan yang tersisa bagi mereka hanyalah seutas tali untuk ditarik, kemudian mereka tercekik dan mati.” [6]
  2. Sekolah-sekolah modern dibangun diatas landasan yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai Ilahiyah agar menjauhkan manusia dari dien terlebih jihad. Mereka berusaha untuk mencitrakan jihad sebagai upaya pembelaan diri di era kolonial saja, agar Islam terkesan sebagai dien yang berjuang hanya untuk mempertahankan batas-batas teritoriolnya saja, seakan-akan Islam hanya milik bangsa tertentu, seakan-akan Islam adalah dien milik Jazirah Arab saja.
    Mereka mengorbitkan beberapa tokoh untuk mempromosikan agenda ini seperti: Abdul Wahab Khilaf melalui bukunya “Siyasah Syar’iyyah”, Muhammad Izzah Darwaza melalui bukunya “Al-Jihad Fi Sabilillah”, Ali Manshur melalui bukunya “As-Syariah Al-Islamiyah Wal Qanun Ad-Duwali”, Muhammad Rafat Utsman melalui bukunya “Al-Huquq Wal Wajibat”, dan Ahmad Muhammad Al-Haufi melalui bukunya “Samahatul Islam”[7]
  3. Mereka coba mencegah Aqidah Wala’ dan Bara’ atau benci dan cinta dalam Islam.
  4. Mengkampanyekan sikap fanatik perkauman, sehingga lebih mengutamakan persaudaraan dengan Nasrani Arab dibandingkan Muslim Afghan, Turki atau Pakistan.
  5. Propaganda Hak Asasi Manusia (HAM).
  6. Propaganda pluralism untuk menyatukan agama-agama dan menihilkan perbedaan prinsipal antar agama.
  7. Propaganda dan mengkampanyekan Islam yang global dan damai.
  8. Menghidupkan kelompok-kelompok sesat untuk menghapus jihad dari Islam, seperti Al-Qiayadiyah (Ahmadiyah), Al-Bahaiyah, dan Al-Babaiyah (ajaran Sai Baba).

Mirza Ghulam Ahmad telah berkata [8]:
“Aku telah dinaungi untuk memoderatkan kaum sunni. Dalam sehari 60 kali saya berjihad dengan lisan dan penaku untuk melunakkan hati kaum muslimin agar tunduk pada Pemerintah Inggris. Saya rasa tulisan-tulisan saya telah menghebohkan kaum muslimin dan mempengaruhi ratusan orang diantara mereka.”
Dia juga berkata:
“Mulai hari ini aku hapuskan hukum jihad dengan pedang, tidak ada lagi jihad setelah hari ini! Barangsiapa setelah hari ini mengangkat senjatanya kepada kaum kafir dan menyebut dirinya sebagai pejuang, maka ia menyelisihi Rasulullah yang telah mengabarkan pada 13 abad yang lalu bahwa jihad akan selesai tatkala Al-Masih yang dijanjikan datang. Sesungguhnya akulah Al-Masih yang dijanjikan, maka tidak ada lagi jihad setelah kedatanganku. Kita menyeru pada perdamaian dan mengibarkan panji keamanan!”
Dia juga berkata:
“Tinggalkanlah ideologi jihad, sekarang berperang untuk dien telah diharamkan! Telah datang seorang Imam Al-Masih dan cahaya telah turun dari langit. Tidak ada lagi jihad, barangsiapa yang berjihad fi sabillah maka ia adalah musuh Allah!”
Adapun sekte Al-Baha’iyah, mereka berkata tentang pengharaman jihad:
“Perintah pertama yang dibawa oleh Ummul Kitab dengan telah diutusnya juru selamat bagi alam semesta adalah penghapusan jihad dari kitab. Telah dihramkan bagi kalian untuk mengangkat persenjataan perang!”
Berkata Abdul Baha’ tentang ayahnya:
“Ia telah menghapus ayat pedang dan meniadakan hukum jihad” [9]
Sesungguhnya ini adalah sekte bentukan Yahudi. Setelah kematian pemimpin mereka yang ketiga “Mirza Syauqi”, majelis tertinggi mereka berkumpul di Israel dan memilih seorang Yahudi Amerika bernama “Maison” menjadi pemimpin spiritual bagi seluruh pengikut ajaran Baha’iyah di seluruh dunia.
Adapun sekte Baha’iyah yang bermarkas di Inggris adalah yang paling berpengaruh, bahkan merekalah yang menjaga ideologi dan organisasi agar tetap berdiri dan berjalan. Berkata Abdul Baha’ di London:
“Sesungguhnya magnet cinta kalian telah menarik saya untuk berada di Kerajaan ini (Inggris). Sungguh kini pemikiran-pemikiran Barat lebih dekat kepada Allah daripada pemikiran-pemikiran Timur.” [10]
_ _ _
Sesungguhnya kita kaum muslimin tidak boleh malu atas dien kita, mari kita nyatakan denan jelas tanpa ada kesamaran dan keraguan bahwa:
  1. Jihad adalah hukum yang telah ditetapkan oleh Rabb semesta alam atas umat ini, untuk membebaskan seluruh belahan bumi dari penindasan dan perbudakan yang dilakukan oleh para thagut menuju keadilan dan rahmat Islam.
  2. Sesungguhnya agama Allah adalah agama untuk seluruh manusia, maka kita akan menyebarkannya keseluruh pelosok bumi.
    Dalam Shahih Muslim diriwatkan bahwa Rasulullah Shalalllahu Alaihi Wasallam telah bersabda [11]:
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperlihatkan kepadaku bumi bagian timur dan bagian baratnya, dan kekuasaan umatku akan mencakup bumi yang aku lihat itu.”
    Allah Ta’ala juga telah berfirman:
    “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” [QS. Ash-Shaff: 9]
  3. Sesunguhnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda dalam sebuah hadits shahih yang diriwatkan oleh Imam Ahmad [12]:
    Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat hingga mereka menyembah Allah Ta’ala semata dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatupun, dan telah dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa yang menyelisihi perkaraku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka”
    Pedang yang dimaksudkan disini adalah untuk memerangi para penjahat dan pemimpin kekufuran serta para penguasa tiran yang memperbudak manusia untuk tunduk dan menyembah mereka dan bukan Allah. Dan termasuk siapa saja yang mengambil alih hak-hak ilahiyah dalam kehidupan, walaupun ia tidak secara langsung menyeru bahwa dirinya tuhan.
    Saya katakan: pedang ini juga harus digunakan untuk menghapus kekuasaan pemerintahan kafir, lembaga-lembaga ekonomi neo-kolonial, dan organisasi-organisasi yang menghalau manusia dari dienullah dan menghalangi mereka bernaung di bawah hukum Allah.
    Setelah semua pilar kekafiran tersebut tumbang di hadapan Islam, maka saat itulah baru berlaku pilihan bagi masyarakat:
    “Barangsiapa yang mau, maka berimanlah! Dan barangsiapa yang tidak mau maka ingkarilah!” [QS. Al-Kahfi: 29]
    “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam. Sungguh telah jelas jalan kebenaran dari jalan kesesatan.” [QS. Al-Baqarah: 256]
  4. Sesunguhnya kalimat “Jihad Fi Sabilillah” dalam 4 mazhab Ahlus Sunnah bermakna:“Al-Qitaal” (Berperang di jalan Allah).
    Berkata Al-Qastalani: “Jihad adalah memerangi orang-orang kafir untuk membela Islam dan meninggikan kalimat Allah”
    Berkata Ibnu Hajar Al-Asqalani: “Jihad adalah bersungguh-sungguh dalam memerangi orang-orang kafir” [13]
    Kita adalah kaum yang tidak rela untuk menghapus hukum jihad dengan pedang hanya untuk meraih keridhaan Barat. Kita tidak rela untuk menghapus salah satu rukun Islam yang agung ini untuk menjadi sekedar kalimat yang dinukilkan di mimbar-mimbar., atau sekedar ditulis di koran dan majalah.
    Berkata Ibnu Rusyd [14]: “Jihad dengan pedang adalah memerangi kaum musyrikin atas agama, sehingga semua orang yang menyusahkan dirinya untuk dzat Allah maka ia telah berjihad di jalan Allah. Namun kata jihad fi sabilillah bila disebut begitu saja maka tidak dipahami selain untuk makna memerangi orang kafir dengan pedang sampai masuk islam atau memberikan upeti dalam keadaan rendah dan hina”
    Wahai saudaraku kaum muslimin, sudahkah kalian pahami apa yang dikatakan oleh Ibnu Rusyd diatas? Jika sudah, maka tidak boleh ada lagi diantara kita yang menyelewengkan dan menggeser makna jihad!
  5. Kalimat “Kami telah kembali dari jihad kecil -perang- untuk menuju jihad besar -jihad hawa nafsu-” yang telah menyebar dan dinyatakan bahwa ini adalah hadits, sesungguhnya perawi dalam riwayat tersebut bernama “Yahya bin Al-A’llaq”.
    Berkata Ibnu Hajar tentangnya: “orang yang ditolak dalam periwayatan hadits”
    Berkata Imam Ahmad: “Yahya adalah pendusta yang meriwayatkan hadist”
    Berkata Ad-Daraquthni: “Tertolak”
    Perkataan ini adalah hadist mungkar dan sangat lemah sekali [15]. Dan Al – Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Hadist ini diriwayatkan dari jalan Isa bin Ibrahim dari Yahya dari Laits bin Abu Sulaim, padahal mereka seluruhnya adalah orang-orang yang lemah. Dan an-Nasa’i membawakannya dari ucapan Ibrahim bin Abi ‘Ablah, salah seorang tabi’in Syam.”
  6. Tidak ada yang tersisa dari kita untuk para musuh kafir yang memerangi Islam kecuali apa yang telah ditulis oleh Al-Mutanabbi:
    “Sesungguhnya kami adalah kaum yang menjadikan perang sebagai ibu, tombak sebagai ayah dan pedang sebagai saudara”[16]
Maha suci engkau Ya Allah dan segala puji adalah milikmu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan hanya Engkau dan aku memohon ampunan kepadamu dan bertobat kepadamu. 
Note:
[1] Lihatlah Ad-Dzilaal: Juz 3, Hal: 1444, dari mukaddimah tafsir Surat Al-Anfal – dikutip dari Kitab Al-Jihad Al-Maududi.
[2] Lihat lengkapnya di Kitab Ibnu Al-Atsir: 10/283.
[3] Kebudayaan Arab oleh Gustave Le Bon, Hal: 384.
[4] Al-Musytariqun Wal Islam oleh Muhammad Qutub, Hal: 32.
[5] At-Tabsyir Wal Isti’mar, Musthafa Al-Khalidi, Hal: 384.
[6] Al-Musytariqun Wal Islam oleh Muhammad Qutub, Hal:32.
[7] Ahammiyatul Jihad, Dr. Ali Al-Ilyani, Hal: 504
[8] Tabligh Risalah, Sekte Al-Qadiyani: 7/10.
[9] Ahammiyatul Jihad, Dr. Ali Al-Ilyani, Hal: 504 – 509.
[10} Hakikatul Babiyah Wal Baha’iyah, Muhsin Abdul Majid, Hal: 237 – 244.
[11] Syarah An-Nawawi, Juz 8, Bab: Al-Fitan, Hal: 13, di catatan nomer 2000.
[12] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad: 2/92.
[13] Fathul Bari: Juz 6, Hal: 2.
[14] Muqaddimah Ibnu Rusyd: 1/368.
[15] Dha’if Al-Jami’ As-Shagir: 4/118.
[16] As-Samhuri: Tombak, Al-Masyrufi: Pedang.

Ternyata ini rahasia kekuatan hafalan Dr Zakir Naik yang fenomenal

Ternyata ini rahasia kekuatan hafalan Dr Zakir Naik yang fenomenal 

Bagi yang sering menonton video ceramah Dr Zakir Naik akan melihat bagaimana dia menjawab pertanyaan peserta dengan sangat mengagumkan yang menunjukkan kekuatan daya hafalnya terhadap dalil Al-Qur’an maupun kitab agama lain.
Dalam sebuah video YouTube, di depan ribuan orang, seorang perempuan bernama Wandena mengajukan pertanyaan kepada Dr Zakir Naik, “bagaimana cara Dr Zakir Naik menghafal sehingga hafalannya terhadap dalil (Al Quran maupun kitab agama lain) sangat fenomenal?”
Dr Zakir Naik menjawab,” Saudari ini bertanya bahwa hafalanku sangat fenomenal dan ini adalah pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah ada ayat Al Qur’an yang membicarakan tentang hafalan?
Selama ini orang-orang bertanya padaku, apakah rahasianya? Apakah engkau memiliki chip komputer? Apa rahasianya? Rahasianya ada di dalam Al Quran (Dr Zakir Naik sambil mengangkat mushaf).
Dalam pelatihan program dakwah yang saya ajarkan pada murid-muridku, saya sebutkan ada tiga hal yang harus diperhatikan.
Yang pertama, disebutkan dalam Quran surat Ali Imran ayat 160 bahwasanya “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada orang yang bisa mengalahkanmu. Jika Allah membiarkanmu, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu selain dari Allah. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal”.
Jadi yang pertama, bertawakal kepada Allah.
Yang kedua, disebutkan dalam Surat Al Ankabut ayat 69. “Jika kamu berjihad untuk (mencari keridhaan) Allah, Allah akan benar-benar menunjukkan kepadamu jalanNya.”
Jadi yang kedua adalah kerja keras.
Dan yang ketiga, Allah berfirman dalam surat Al Anbiya ayat 7 dan surat An Nahl ayat 43. “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui.”
Yang ketiga bersifat teknis.
Teknik yang kami coba dalam pelatihan program dakwah kami, orang-orang bertanya padaku, Zakir, apa tekniknya? saya katakan ada tiga teknik terpenting dan yang pertama adalah beriman kepada Allah.
Nomor satu adalah beriman kepada Allah. Dan semua teknik ilmu Anda yang ada di dunia, kamu tahu berapa banyak muridku yang bergelar MBA.
Pada awalnya mereka adalah murid yang baik kemudian akhirnya mereka kembali lagi ke bawah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala penolong terbaik melebihi dari bentuk apapun atau teknik segitiga dan apapun bentuknya.
Bagaimana cara mendapat pertolongan Allah? yaitu jika kamu berjuang di jalan-Nya. Kamu berjuang di jalan-Nya niscaya kamu mendapat kesuksesan.
Dalam pelatihan kami, saya mengajarkan kepada murid-murid menghafal surat dan ayat ini, bagaimana berceramah dan mengelola tanya jawab. Dan sebelum saya memulai ceramah, saya selalu membaca doa sebagaimana dalam Surat Thaha ayat 25-28. Yang artinya, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”
Demikian beberapa rahasia hafalan Dr Zakir Naik yang fenomenal. Semoga menjadi motivasi bagi kita untuk semakin semangat menuntut ilmu, memahami dalil-dalil untuk diamalkan sehari-sehari dan untuk didakwahkan kepada manusia.