Sekilas tentang biografi KH. Zubair
K.H. Zubair, yang mempunyai nama lengkap K.H. Zubair Umar Al-Jailaniy, menurut hasil penelitian K.H. Ahmad Izzuddinm M.Ag (2002: 58-61) belaiu (K.H. Zubair) adalah seorang Ulama' juga akademisi yang terkenal sebagai pakar ilmu falak dengan karya monumentalnya kitab "Al-Khulashah al-Wafiyah, beliau lahir di Pandangan kecamatan Pandangan Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, 16 September 1908 M.(Rabu Paing, bertepatan 19 Sya'ban 1326 H/1838 Jawa).
Dunia pendidikan yang beliau tempuh hampir seluruhnya dalam pendidikan tradisional yakni madrasah dan pondok pesantren, termasuk mukim untuk menuntut ilmu di Makkah al-Mukaramah pada waktu menjalankan ibadah haji di tanah suci. Sebagaimana kondisi social realistis di abad tersebut bahwa pesantren masih merupakan satu-satunya lembaga pendidikan untuk tingkat lanjut yang tersedia bagi penduduk pribumi di pedesaan, sehingga dapat diasumsikan sangat berperan dalam mendidik para elit pada masanya. Pendidikan beliau dimulai dari madrasah Ulum tahun 1916-1921, pondok pesantren Termas Pacitan Jawa Timur tahun 1921-1925, peondok pesantren Simbang Kulon Pekalongan Jawa Tengah tahun 1925-1926, pondok pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur tahun 1926-1929. Kemudian tahun 1930-1935 beliau menjalankan ibadah haji yang dilanjutkan dengan thalab al-ilmi di Makkaah selama lima tahun.
Dalam rihlah ilmiah K.H. Zubair Umar Al-Jailaniy tidak hanya menuntut ilmu (ifadah) tetapi juga mengajarkan ilmunya (istifadah) sebagaimana ketika berada di pondok pesantren KH. Hasyim Asy'ari, beliau mengabdikan diri dengan menjadi guru Madrasah Salafiyah Tebu Ireng Jombang, bahkan beliau pernah menjabat Rektor IAIN Walisongo Semarang dengan Surat Keputusan tertanggal 5 Mei 1971. di samping itu beliau juga pernah memimpin Pondok Pesantren al-Ma'had al-Diiniy Reksosari Suruh Salatiga pada tahun 1935-1945, mendirikan pondok pesantren Luhur yang merupakan cikal bakal IKIP NU yang akhirnya menjadi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo cabang Salatiga dan sekarang menjadi STAIN Salatiga. Dan juga mendirikan Pondok Pesantren Joko Tingkir pada tahun 1977 yang sekarang tinggal petilasannya.
Murid-muridnya antara lain: Kyai Musyafak (Salatiga Jawa Tengah), Kyai Subkhi (Jawa Timur), Hamid Nawawi (Bulu Manis, Pati, Jawa Tengah), Slamet Hambali (Dosen IAIN Walisongo Semarang), dan Drs Habib Thoha, M.A. (mantan Kakanwil Depag Jawa Tengah). Slamet Hambali adalah salah satu di antara murid beliau yang meneruskan ilmu falak.
Beliau wafat di Salatiga pada tanggal 10 Desember 1990 M atau 24 Jumadil-ula 1411 H.[2]
B. Metode Hisab KH. ZUBAIR
Perkembangan ilmu falak kontemporer dalam sejarah indonesia tidak akan terlepas dari peranan salah satu tokoh termahsyur yakni KH.Zubair. Melacak dari eksistensi pemikiran beliau dalam ilmu falak dapat ditemukan di kitab Al-khulashah al-wafiyah. kitab Al-khulashah al-wafiyah adalah kitab falak yang disusun oleh K.H. Zubair Umar Al-Jailani yang termasuk dalam kategori hakiki bi al-tahqiq. Semua bentuk hisab dimunculkan dalam kitab al-khulashah al-wafiyah, mulai dari hisab 'urfi[3] , kemudian hisab hakiki taqribi kemudian dilanjutkan kepada hisab hakiki bi al-tahqiq. Olehnya itu hisab urfi hanya didasarkan kepada kaidah-kaidah umum dari gerak atau perjalanan bulan mengelilingi Bumi dalam satu bulan sinodis, yakni satu masa dari ijtimak/konjungsi yang satu ke konjungsi lainnya yang rata-rata ditempuh selama 29h 12j 44m 2d,8. Masa ijtima' tersebut dalam hisab urfi dibuat landasan menetapkan umur bulan, di mana dalam hisab urfi umur bulan selalu bergantian antara 30 hari dan 29 hari, kecuali untuk tahun kabisat bulan Dzulhijjah ditetapkan 30 hari. Satuan masa tahun hijriyah urfi adalah 30 tahun, yang terdiri dari 11 tahun kabisat dan 19 tahun basithah. Penetapan 11 tahun kabisat adalah dari bilangan 44 menit 2,8 detik tiap bulan yang dalam satu tahun dikalikan 12, kemudian dikalikan 30 (untuk 30 tahun), terjumlah 264 jam 16 menit 48 detik. 264 jam = 11 hari. Dengan demikian dalam 30 tahun ada 11 tahun yang jumlah harinya ditambah satu menjadi 355 hari yang diberi nama tahun kabisat, sedangkan untuk tahun basathah umurnya 354 hari.
Hisab hakiki taqribi, sesuai dengan julukannya, hasilnya baru mendekati kebenaran, dan sistemnya sangat sederhana. Hisab hakiki taqribi ini dapat dihitung dan diselesaikan tanpa kalkulator dan computer, karena sistim perhitungannya kebanyakan hanya menambah dan mengurangi belum menggunakan rumus-rumus segitiga bola, perkalian hanya ada dua kali, yaitu, pertama al-bu'du al-ghair al-mu'addal dikalikan 5 menit, kedua, al-bu'du al-mu'ddal dikalikan khishshah al-sa'ah. Sistim hisab hakiki taqribi ini dapat dijumpai dalam kitab Sulam al-Naiyyirain karya K.H. Manshur al-Battawiy, Fatkhur-Rauf al-Mannan, dan dalam kitab al-Khulashah al-Wafiyah. Dalam kitab Sulam al-Naiyyirain dan kitab Fatkhur-Rauf al-Mannan, sistim taqribi sudah final, sedangkan dalam kitab al-Khulashah al-Wafiyah, sistim taqribi belum final, baru proses awal yang harus dilalui untuk melakukan hisab hakiki bit-tahqiq. Dalam hisab hakiki taqribi untuk hisab awal bulan komariyah konstrasi hanya mencari waktu ijtima'. Ketika ijtima' terjadi sebelum maghrib, dalam sistim ini tinggi hilal selalu positip, karena untuk mendapatkan tingggi hilal rumusnya hanyalah waktu maghrib dikurangi waktu ijtima', sisanya dibagi dua kemudian dikalikan 1 derajat.
Hisab hakiki bit-tahqiq, merupakan lanjutan dari hisab hakiki taqribi. Dalam hisab hakiki bit-tahqiq proses perhitungannya mendetail, dengan menggunakan rumus-rumus segitiga bola. Dalam hisab hakiki bit-tahqiq, untuk hisab awal bulan komariyah, konsentrasi tidak hanya menghitung waktu ijtima' saja, akan tetapi juga harus memperhatikan markaznya, yaitu tempat yang dijadikan pusat perhitungan itu harus diketahui dengan jelas bujurnya berapa? Kemudian lintangnya berapa? Bahkan ketinggiannya berapa? Di tempat tersebut maghrib terjadi jam berapa? Pada saat maghrib di tempat tersebut deklinasi matahari atau mail al-syams berapa? Deklinasi atau mail al-qamar berapa? Equation of time atau daqaiq ta'dil al-zamannya berapa? Sudut waktu matahari berapa? Sudut waktu bulan berapa? Tinggi bulan berapa? Azimuth matahari berapa? Azimuth bulan berapa? Elongasi bulan berapa? Dalam melakukan hisab hakiki bit-tahqiq hanya bisa dikerjakan dengan bantuan alat bantu baik yang sederhana seperti, daftar logaritma, maupun yang canggih, seperti scientific calculator ataupun computer.
Hisab hakiki kontemporer, adalah sebagaimana sistim hisab hakiki bit-tahqiq yang diprogram dalam computer yang sudah disesuaikan dengan perkembangan ataupun temuan-temuan baru.
Kitab al-khulashah al-wafiyah di kalangan ahli ilmu falak dikenal sebagai salah satu kitab falak yang masuk kategori hakiki bit-tahqiq yang cukup baik dan banyak yang mengamalkannya. Namun di kalangan masyarakat luas masih banyak yang belum mengenal sistim hisab dalam kitab al-khulashah al-wafiyah, berbeda dengan sulam al-naiyyirain, hampir-hampir semua pesantren melakukan kajian terhadap kitab tersebut. Perlu diketahui bahwa dalam kitab al-khulashah al-wafiyah itu tidak hanya menampilakan sistim hisab hakiki bit-tahqiq saja, akan tetapi juga menampilkan sistim hisab urfi dan sistim hisab hakiki taqribi.Jadi bermacam-macamnya sistem hisab awal bulan komariyah dalam kitab al-khulashah al-wafiyah adalah merupakan proses menuju hisab hakiki bi al-tahqiq, bukan untuk berdiri sendiri yang terpisah dengan yang lainnya.
Data-data astronomis dalam kitab al-khulashah al-wafiyah menggunakan acuan tahun hijriyah dengan menggunakan markaz Makkah al-Mukaramah, sehingga hasib dalam melakukan perhitungan untuk awal bulan komariyah harus berhati-hati, sebab masa sekarang, pada umumnya waktu atau jam yang dipakai adalah menggunakan acuan Green Wich, sebagaimana waktu yang dianut dalam sistem WIB, WITA dan WIT yang masing-masing dengan Green Wich selisih 7 jam, 8 jam dan 9 jam.
Rabu, 30 Desember 2015
LAJNAH FALAKIYAH MIFTAHUL ULUM BAKID
LAJNAH FALAKIYAH MIFTAHUL ULUM
Banyuputih Kidul Po. Box 101 Jatiroto Telp./ Fax. : 0334 – 882800
Lumajang 67355 Jawa Timur
السلام عليكم ورحمة الله وبركا تة
Benda langit atau yang di sebut dengan bintang adalah meliputi Matahari,Bulan, Planet,termasuk Bumi yang kita tempati dan Bintang-bintang nan jauh di sana. Semua benda langit terlihat indah seolah-olah menempel pada bola langit di atas kita,bergerak berputar dan berjalan dari timur ke arah barat. Itu semua akibat Bumi berputar mengelilingi porosnya.
Semua benda langit apapun namanya, Bintang-bintang termasuk Matahari,di ciptakan oleh Allah,pasti ada tujuannya.”Dan(Dia ciptakan) tanda-tanda (Petunjuk jalan) dan dengan Bintang-bintang inilah mereka mendapat petunjuk” (An-Nahl Ayat 16). Inilah salah satu tujuan Allah menciptakan itu semua.
Allah SWT,telah berulang kali menyinggung fenomena alam dengan firman-firman –Nya dalam Al-Qur`an yang di antara lain Surat Yunus Ayat 5 “Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya,dan di ciptakan-Nya Manzilah-manzilah(Tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan Tahun,dan perhitungan(waktu), Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan Haq,Dia menjelaskan Tanda-tanda(kebesaran-Nya)kepada orang-orang yang mengerti.”
Ayat-ayat Al-Qur`an yang demikian itu sudah semestinya menjadi pendorong bagi manusia,khususnya para Santri,untuk memperhatian dan mempelajari benda-benda langit agar menambah keyakinan dan kebesaran kekuasaan Allah SWT. Di samping agar dapat di manfaatkan oleh manusia sendiri untuk menata kehidupan nya sehari-hari.
Pernyataan tentang benda-benda langit yang di kenal dengan Astronomi memang banyak cabang dan ragamnya,satu di antaranya adalah ilmu Falak. Hanya saja,buku-buku ilmu Falak yang ada di Indonesia itu di rasa kurang dan sedikit jumlahnya,bahkan sulit didapati. Disamping itu, pada saat sekarang ini di rasa kurang adanya semangat mempelajari ilmu Falak di kalangan Masyarakat.
Menurut kenyataan diakui bahwa Indonesia terdapat berbagai macam sistem ilmu Hisab atau ilmu Falak,baik yang tumbuh dan berkembang di pesantren-pesantren, perguruan tinggi,maupun di Instansi atau lembaga terkait. Satu di antaranya adalah sistem Ephemeris,yakni ilmu Falak yang menggunakan data dari Ephemeris Hisab Rukyat yang di persiapkan oleh Departemen Agama RI.
Karena data Astronomi yang ada pada Ephemeris Hisab Rukyat itu di olah dengan rumus-rumus SEGITIGA BOLA yang di akui kebenarannya oleh ilmu pengetahuan,maka data Astronomi pada Ephemeris tidak perlu di ragukan kebenarannya.
Oleh karena itu,Pesantern kita membangun sebuah lembaga LFMU (Lajnah Falakiyah Miftahul Ulum) yang baru ini muncul di tengah-tengah ramainya lembaga-lembaga yang lain, karna melihat Pesantren yang sebesar ini yang padam akan pengetahuan ilmu Falak atau Hisabnya.
Kami segenap Kru Lajnah LFMU, akan memaparkan hasil perhitungan Bulan Hijriyah meliputi Ijtimak awal bulan, gerhana matahari, gerhana bulan DLL, yang insya Allah seterusnya akan kami terbitkan setiap ahir bulan Hijriyah.
Nah, sekarang kami akan mengulas tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi pada akhir bulan Hijriyah:
Dari perhitungan yang kami ketahui bahwasanya Ijtimak (berkumpulnya Bulan dan Matahari) menjelang Rajab 1436 H. Terjadi pada hari Ahad, Tanggal 19 April2015 M,. jam 01:58 lewat 18 Detik WIB
Untuk lokasi Banyu putih kidul-Jatiroto-Lumajang:
Matahari terbenam Tgl 19 April 2015 = Jam 17j 36m 18.19d WIB.
Tinggi Hakiki Bulan = 8o21` 41.59” (Di atas Ufuk)
Tinggi Mar`i Bulan = 7o46` 47.58” (Di atas Ufuk Mar`i)
Lama Hilal di atas Ufuk = 0j31m7.17d
Hilal terbenam Jam = 18j7m25.36d WIB
Arah terbenam Hilal = 11o57` 26.33”
Cahaya Hilal = 0.189 (JARI)
Luas cahaya Hilal = 0.00653 (Bagian)
Azimut (Arah) Matahari = 11o23` 10.01”
Azimut (Arah) Bulan = 10o50` 31.28”
Letak dan Posisi Hilal = Hilal berada di sebelah selatan Matahari sejauh 0o 32’ 38.73’’ dengan keadaan Hilal terlentang.
Pernyataan di atas menggunakan metode perhitungan teori EPHEMERIS, berdasarkan hasil Hisab di atas pada hari Ahad Tgl 19 April 2015 Hilal sudah wujud. Maka awal bulan Rajab 1436 H, bertepatan dengan hari Senin Tgl 20 April 2015 M.
Tiada gading yang tak retak. Kami segenap Kru LFMU mengharap kepada para pembaca,apabila menemui kekurangan ataupun kekeliruan dapatlah kiranya memberikan Informasi kepada Kru LFMU untuk perbaikan pada penerbitan yang akan datang.
Banyuputih Kidul, 16 April 2015 M
26 Jumadil Tsani 1436 H
REDAKSI LFMU
Referensi: Muhyiddin khazin,ILMU FALAK Dalam Teori dan Praktik,
Falakiyah Bata-Bata,PECINTA ASTRONOMI sang pemburu hilal.
Banyuputih Kidul Po. Box 101 Jatiroto Telp./ Fax. : 0334 – 882800
Lumajang 67355 Jawa Timur
السلام عليكم ورحمة الله وبركا تة
Benda langit atau yang di sebut dengan bintang adalah meliputi Matahari,Bulan, Planet,termasuk Bumi yang kita tempati dan Bintang-bintang nan jauh di sana. Semua benda langit terlihat indah seolah-olah menempel pada bola langit di atas kita,bergerak berputar dan berjalan dari timur ke arah barat. Itu semua akibat Bumi berputar mengelilingi porosnya.
Semua benda langit apapun namanya, Bintang-bintang termasuk Matahari,di ciptakan oleh Allah,pasti ada tujuannya.”Dan(Dia ciptakan) tanda-tanda (Petunjuk jalan) dan dengan Bintang-bintang inilah mereka mendapat petunjuk” (An-Nahl Ayat 16). Inilah salah satu tujuan Allah menciptakan itu semua.
Allah SWT,telah berulang kali menyinggung fenomena alam dengan firman-firman –Nya dalam Al-Qur`an yang di antara lain Surat Yunus Ayat 5 “Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya,dan di ciptakan-Nya Manzilah-manzilah(Tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan Tahun,dan perhitungan(waktu), Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan Haq,Dia menjelaskan Tanda-tanda(kebesaran-Nya)kepada orang-orang yang mengerti.”
Ayat-ayat Al-Qur`an yang demikian itu sudah semestinya menjadi pendorong bagi manusia,khususnya para Santri,untuk memperhatian dan mempelajari benda-benda langit agar menambah keyakinan dan kebesaran kekuasaan Allah SWT. Di samping agar dapat di manfaatkan oleh manusia sendiri untuk menata kehidupan nya sehari-hari.
Pernyataan tentang benda-benda langit yang di kenal dengan Astronomi memang banyak cabang dan ragamnya,satu di antaranya adalah ilmu Falak. Hanya saja,buku-buku ilmu Falak yang ada di Indonesia itu di rasa kurang dan sedikit jumlahnya,bahkan sulit didapati. Disamping itu, pada saat sekarang ini di rasa kurang adanya semangat mempelajari ilmu Falak di kalangan Masyarakat.
Menurut kenyataan diakui bahwa Indonesia terdapat berbagai macam sistem ilmu Hisab atau ilmu Falak,baik yang tumbuh dan berkembang di pesantren-pesantren, perguruan tinggi,maupun di Instansi atau lembaga terkait. Satu di antaranya adalah sistem Ephemeris,yakni ilmu Falak yang menggunakan data dari Ephemeris Hisab Rukyat yang di persiapkan oleh Departemen Agama RI.
Karena data Astronomi yang ada pada Ephemeris Hisab Rukyat itu di olah dengan rumus-rumus SEGITIGA BOLA yang di akui kebenarannya oleh ilmu pengetahuan,maka data Astronomi pada Ephemeris tidak perlu di ragukan kebenarannya.
Oleh karena itu,Pesantern kita membangun sebuah lembaga LFMU (Lajnah Falakiyah Miftahul Ulum) yang baru ini muncul di tengah-tengah ramainya lembaga-lembaga yang lain, karna melihat Pesantren yang sebesar ini yang padam akan pengetahuan ilmu Falak atau Hisabnya.
Kami segenap Kru Lajnah LFMU, akan memaparkan hasil perhitungan Bulan Hijriyah meliputi Ijtimak awal bulan, gerhana matahari, gerhana bulan DLL, yang insya Allah seterusnya akan kami terbitkan setiap ahir bulan Hijriyah.
Nah, sekarang kami akan mengulas tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi pada akhir bulan Hijriyah:
Dari perhitungan yang kami ketahui bahwasanya Ijtimak (berkumpulnya Bulan dan Matahari) menjelang Rajab 1436 H. Terjadi pada hari Ahad, Tanggal 19 April2015 M,. jam 01:58 lewat 18 Detik WIB
Untuk lokasi Banyu putih kidul-Jatiroto-Lumajang:
Matahari terbenam Tgl 19 April 2015 = Jam 17j 36m 18.19d WIB.
Tinggi Hakiki Bulan = 8o21` 41.59” (Di atas Ufuk)
Tinggi Mar`i Bulan = 7o46` 47.58” (Di atas Ufuk Mar`i)
Lama Hilal di atas Ufuk = 0j31m7.17d
Hilal terbenam Jam = 18j7m25.36d WIB
Arah terbenam Hilal = 11o57` 26.33”
Cahaya Hilal = 0.189 (JARI)
Luas cahaya Hilal = 0.00653 (Bagian)
Azimut (Arah) Matahari = 11o23` 10.01”
Azimut (Arah) Bulan = 10o50` 31.28”
Letak dan Posisi Hilal = Hilal berada di sebelah selatan Matahari sejauh 0o 32’ 38.73’’ dengan keadaan Hilal terlentang.
Pernyataan di atas menggunakan metode perhitungan teori EPHEMERIS, berdasarkan hasil Hisab di atas pada hari Ahad Tgl 19 April 2015 Hilal sudah wujud. Maka awal bulan Rajab 1436 H, bertepatan dengan hari Senin Tgl 20 April 2015 M.
Tiada gading yang tak retak. Kami segenap Kru LFMU mengharap kepada para pembaca,apabila menemui kekurangan ataupun kekeliruan dapatlah kiranya memberikan Informasi kepada Kru LFMU untuk perbaikan pada penerbitan yang akan datang.
Banyuputih Kidul, 16 April 2015 M
26 Jumadil Tsani 1436 H
REDAKSI LFMU
Referensi: Muhyiddin khazin,ILMU FALAK Dalam Teori dan Praktik,
Falakiyah Bata-Bata,PECINTA ASTRONOMI sang pemburu hilal.
https://plus.google.com/111308222011798761401/posts/iSmpShimvvE
https://plus.google.com/111308222011798761401/posts/iSmpShimvvE
Dari Benci Islam Menjadi Pembela Islam
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Mulanya, tak pernah tebersit sedikit pun keinginan di benak pemilik nama lengkap Ita Meigavitri ini untuk memeluk Islam.
Bahkan, perempuan berdarah Tionghoa yang akrab disapa Ita ini mengaku benci luar biasa dengan orang Islam.
“Saya benci sekali. Yang terdoktrin dalam otak saya, Islam itu agama yang senang ribut dan ribet,” kata dia.
Sederhana saja dia mencontohkan. Tidak ada agama yang pemeluknya bolak-balik kehilangan sandal di tempat pengajian selain Islam.
Latar belakang perempuan asal Kutoarjo ini semakin mengkristalkan kebenciannya terhadap risalah Muhammad SAW ini. Sulung dari enam bersaudara ini adalah orang pertama dari keluarga besarnya yang masuk Katolik. Orang tuanya semula menganut Konghucu.
Ita memeluk Katolik lantaran sejak TK-SMA bersekolah di lembaga pendidikan Katolik. Setelah Ita dibaptis, barulah ayah ibu dan adik-adiknya mengikuti jejak masuk Katolik.
“Saya tidak sekadar duduk sebagai umat, tapi menjadi bagian dari tim sukses gereja,” ungkap Ita. Dia aktif menjadi putra-putri altar di gereja.
“Betapa bencinya saya dengan orang Islam. Sampai suatu hari, Allah menuntun saya pada hidayah yang saya terima,” kenang Ita. Seolah takdir, selepas kuliah dia dituntun Allah bekerja di lingkungan Muslim.
Alumni S2 Universitas Tarumanegara, Jakarta itu berprofesi sebagai advokat. Senin sampai Kamis, Ita disibukkan dengan kasus-kasus perceraian, rujuk, atau perebutan hak waris di pengadilan. Jumat-Ahad, dia gunakan untuk beribadah.
Ita mengaku, ketika dia bekerja di lingkungan Muslim, misinya adalah mengkristenkan teman-temannya yang beragama Islam. Identitas kekristenan dengan bangga dia perlihatkan.
“Saat masuk kantor, pulang dari kantor, makan, sampai masuk ruang sidang, saya selalu membuat tanda salib. Tanda salib itu simbol kemenangan bagi umat Katolik,” tutur dia.
Tapi, rupanya tindakan itu membuat teman-temannya risih. Dengan lugas temannya berkata, Katolik bukan agama yang benar jadi tidak ada gunanya Ita berlaku seperti itu. Sontak, perempuan itu pun marah. Ia mengajukan pembelaan.
“Heh, yang salah itu agamamu. Islam itu agama paling tidak rasional,” sahut Ita.
Merasa jengkel, perempuan Tionghoa itu pun pergi ke toko buku mencari Alquran. Dia pilih Alquran cetakan yang paling besar. Ita mengira itu edisi yang paling lengkap.
Begitu sampai di rumah, dia buka kitab suci itu. Sekejap Ita merasa heran. Tulisan macam apa ini. Dia tidak dapat membaca! Ita sempat marah, tapi segeralah dia kembali ke toko buku. Dia tukar dengan Alquran tafsir terjemahan.
Tidak ada cita-cita untuk menjadi Muslim dengan membeli kitab suci itu. “Saya tidak ingin sama sekali, wong kayane ribet banget jadi wong Muslim (Orang sepertinya ribet sekali jadi Muslim),” kata Ita.
Justru, ambisinya adalah mencari kesalahan di dalam Alquran. Dia ingin menunjukkan kesalahan-kesalahan kitab suci umat Islam itu pada para koleganya yang beragama Islam.
Namun, Allah Maha membolak-balikkan hati seorang hamba. Perempuan itu malah jatuh hati pada Alquran. Dia merasa tidak ada satupun kalimat yang salah atau kontradiktif dalam Alquran.
Seketika, dia tergerak untuk mengenali Alkitab. Selama 33 tahun menjadi Nasrani, kata Ita mengaku, belum pernah sekalipun dia meneliti Alkitab. “Alquran sudah saya pelajari, saya jadi ingin mempelajari Injil. Jangan-jangan yang salah Injil,” kata dia.
Giliran membuka Alkitab, Ita kaget luar biasa. Dia terantuk pada satu ayat dalam Imamat 11. Ayat itu menyebutkan, haram bagimu makan babi dan binatang berkuku belah.
Bahkan, bangkainya pun jangan kamu sentuh. Ita heran, merasa selama ini umat Katolik sah-sah saja makan daging anjing dan babi. Setelah itu, Ita makin berminat membuka Alkitab.
Ia temukan ayat-ayat lain yang menunjukkan ketidaksesuaian antara ajaran Alkitab dengan praktik gereja. Misalnya, dalam surat Korintus tertulis, hai wanita kenakanlah tudung pada kepalamu. Itu berarti wanita harus berjilbab.
Tapi, hanya suster-suster yang diwajibkan berjilbab. Alkitab juga mengajarkan laki-laki bersunat, tapi umat Nasrani tidak melakukan. “Bukan Alkitab yang salah, tapi penerapannya yang tidak pas,” kata Ita.
Menurut dia, Yesus pun mengajarkan dua kalimat syahadat. Yesus tidak pernah menyebut dirinya Tuhan dan menyuruh manusia menyembah hanya kepada Allah. Sama seperti Alquran, Alkitab mengajarkan khitan, berwudhu, mandi junub, berjilbab, shalat menghadap ke kiblat, hukum qisas, dan larangan membungakan uang.
Kini, Ita aktif menjadi seorang pendakwah. Semangatnya semasa Katolik mewaris dalam nadinya setelah masuk Islam. Perempuan itu aktif mengisi pengajian di berbagai tempat.
Walau sering mendapat ancaman saat berdakwah, ia tidak surut. Ita juga mengaku membina puluhan mualaf di rumahnya. Sebagian adalah orang-orang Katolik, Kristen, dan Tionghoa yang terbuang dari keluarga.
Bahkan, perempuan berdarah Tionghoa yang akrab disapa Ita ini mengaku benci luar biasa dengan orang Islam.
“Saya benci sekali. Yang terdoktrin dalam otak saya, Islam itu agama yang senang ribut dan ribet,” kata dia.
Sederhana saja dia mencontohkan. Tidak ada agama yang pemeluknya bolak-balik kehilangan sandal di tempat pengajian selain Islam.
Latar belakang perempuan asal Kutoarjo ini semakin mengkristalkan kebenciannya terhadap risalah Muhammad SAW ini. Sulung dari enam bersaudara ini adalah orang pertama dari keluarga besarnya yang masuk Katolik. Orang tuanya semula menganut Konghucu.
Ita memeluk Katolik lantaran sejak TK-SMA bersekolah di lembaga pendidikan Katolik. Setelah Ita dibaptis, barulah ayah ibu dan adik-adiknya mengikuti jejak masuk Katolik.
“Saya tidak sekadar duduk sebagai umat, tapi menjadi bagian dari tim sukses gereja,” ungkap Ita. Dia aktif menjadi putra-putri altar di gereja.
“Betapa bencinya saya dengan orang Islam. Sampai suatu hari, Allah menuntun saya pada hidayah yang saya terima,” kenang Ita. Seolah takdir, selepas kuliah dia dituntun Allah bekerja di lingkungan Muslim.
Alumni S2 Universitas Tarumanegara, Jakarta itu berprofesi sebagai advokat. Senin sampai Kamis, Ita disibukkan dengan kasus-kasus perceraian, rujuk, atau perebutan hak waris di pengadilan. Jumat-Ahad, dia gunakan untuk beribadah.
Ita mengaku, ketika dia bekerja di lingkungan Muslim, misinya adalah mengkristenkan teman-temannya yang beragama Islam. Identitas kekristenan dengan bangga dia perlihatkan.
“Saat masuk kantor, pulang dari kantor, makan, sampai masuk ruang sidang, saya selalu membuat tanda salib. Tanda salib itu simbol kemenangan bagi umat Katolik,” tutur dia.
Tapi, rupanya tindakan itu membuat teman-temannya risih. Dengan lugas temannya berkata, Katolik bukan agama yang benar jadi tidak ada gunanya Ita berlaku seperti itu. Sontak, perempuan itu pun marah. Ia mengajukan pembelaan.
“Heh, yang salah itu agamamu. Islam itu agama paling tidak rasional,” sahut Ita.
Merasa jengkel, perempuan Tionghoa itu pun pergi ke toko buku mencari Alquran. Dia pilih Alquran cetakan yang paling besar. Ita mengira itu edisi yang paling lengkap.
Begitu sampai di rumah, dia buka kitab suci itu. Sekejap Ita merasa heran. Tulisan macam apa ini. Dia tidak dapat membaca! Ita sempat marah, tapi segeralah dia kembali ke toko buku. Dia tukar dengan Alquran tafsir terjemahan.
Tidak ada cita-cita untuk menjadi Muslim dengan membeli kitab suci itu. “Saya tidak ingin sama sekali, wong kayane ribet banget jadi wong Muslim (Orang sepertinya ribet sekali jadi Muslim),” kata Ita.
Justru, ambisinya adalah mencari kesalahan di dalam Alquran. Dia ingin menunjukkan kesalahan-kesalahan kitab suci umat Islam itu pada para koleganya yang beragama Islam.
Namun, Allah Maha membolak-balikkan hati seorang hamba. Perempuan itu malah jatuh hati pada Alquran. Dia merasa tidak ada satupun kalimat yang salah atau kontradiktif dalam Alquran.
Seketika, dia tergerak untuk mengenali Alkitab. Selama 33 tahun menjadi Nasrani, kata Ita mengaku, belum pernah sekalipun dia meneliti Alkitab. “Alquran sudah saya pelajari, saya jadi ingin mempelajari Injil. Jangan-jangan yang salah Injil,” kata dia.
Giliran membuka Alkitab, Ita kaget luar biasa. Dia terantuk pada satu ayat dalam Imamat 11. Ayat itu menyebutkan, haram bagimu makan babi dan binatang berkuku belah.
Bahkan, bangkainya pun jangan kamu sentuh. Ita heran, merasa selama ini umat Katolik sah-sah saja makan daging anjing dan babi. Setelah itu, Ita makin berminat membuka Alkitab.
Ia temukan ayat-ayat lain yang menunjukkan ketidaksesuaian antara ajaran Alkitab dengan praktik gereja. Misalnya, dalam surat Korintus tertulis, hai wanita kenakanlah tudung pada kepalamu. Itu berarti wanita harus berjilbab.
Tapi, hanya suster-suster yang diwajibkan berjilbab. Alkitab juga mengajarkan laki-laki bersunat, tapi umat Nasrani tidak melakukan. “Bukan Alkitab yang salah, tapi penerapannya yang tidak pas,” kata Ita.
Menurut dia, Yesus pun mengajarkan dua kalimat syahadat. Yesus tidak pernah menyebut dirinya Tuhan dan menyuruh manusia menyembah hanya kepada Allah. Sama seperti Alquran, Alkitab mengajarkan khitan, berwudhu, mandi junub, berjilbab, shalat menghadap ke kiblat, hukum qisas, dan larangan membungakan uang.
Kini, Ita aktif menjadi seorang pendakwah. Semangatnya semasa Katolik mewaris dalam nadinya setelah masuk Islam. Perempuan itu aktif mengisi pengajian di berbagai tempat.
Walau sering mendapat ancaman saat berdakwah, ia tidak surut. Ita juga mengaku membina puluhan mualaf di rumahnya. Sebagian adalah orang-orang Katolik, Kristen, dan Tionghoa yang terbuang dari keluarga.
Langganan:
Postingan (Atom)