Sekilas tentang biografi KH. Zubair
K.H. Zubair, yang mempunyai nama lengkap K.H. Zubair Umar Al-Jailaniy, menurut hasil penelitian K.H. Ahmad Izzuddinm M.Ag (2002: 58-61) belaiu (K.H. Zubair) adalah seorang Ulama' juga akademisi yang terkenal sebagai pakar ilmu falak dengan karya monumentalnya kitab "Al-Khulashah al-Wafiyah, beliau lahir di Pandangan kecamatan Pandangan Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, 16 September 1908 M.(Rabu Paing, bertepatan 19 Sya'ban 1326 H/1838 Jawa).
Dunia pendidikan yang beliau tempuh hampir seluruhnya dalam pendidikan tradisional yakni madrasah dan pondok pesantren, termasuk mukim untuk menuntut ilmu di Makkah al-Mukaramah pada waktu menjalankan ibadah haji di tanah suci. Sebagaimana kondisi social realistis di abad tersebut bahwa pesantren masih merupakan satu-satunya lembaga pendidikan untuk tingkat lanjut yang tersedia bagi penduduk pribumi di pedesaan, sehingga dapat diasumsikan sangat berperan dalam mendidik para elit pada masanya. Pendidikan beliau dimulai dari madrasah Ulum tahun 1916-1921, pondok pesantren Termas Pacitan Jawa Timur tahun 1921-1925, peondok pesantren Simbang Kulon Pekalongan Jawa Tengah tahun 1925-1926, pondok pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur tahun 1926-1929. Kemudian tahun 1930-1935 beliau menjalankan ibadah haji yang dilanjutkan dengan thalab al-ilmi di Makkaah selama lima tahun.
Dalam rihlah ilmiah K.H. Zubair Umar Al-Jailaniy tidak hanya menuntut ilmu (ifadah) tetapi juga mengajarkan ilmunya (istifadah) sebagaimana ketika berada di pondok pesantren KH. Hasyim Asy'ari, beliau mengabdikan diri dengan menjadi guru Madrasah Salafiyah Tebu Ireng Jombang, bahkan beliau pernah menjabat Rektor IAIN Walisongo Semarang dengan Surat Keputusan tertanggal 5 Mei 1971. di samping itu beliau juga pernah memimpin Pondok Pesantren al-Ma'had al-Diiniy Reksosari Suruh Salatiga pada tahun 1935-1945, mendirikan pondok pesantren Luhur yang merupakan cikal bakal IKIP NU yang akhirnya menjadi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo cabang Salatiga dan sekarang menjadi STAIN Salatiga. Dan juga mendirikan Pondok Pesantren Joko Tingkir pada tahun 1977 yang sekarang tinggal petilasannya.
Murid-muridnya antara lain: Kyai Musyafak (Salatiga Jawa Tengah), Kyai Subkhi (Jawa Timur), Hamid Nawawi (Bulu Manis, Pati, Jawa Tengah), Slamet Hambali (Dosen IAIN Walisongo Semarang), dan Drs Habib Thoha, M.A. (mantan Kakanwil Depag Jawa Tengah). Slamet Hambali adalah salah satu di antara murid beliau yang meneruskan ilmu falak.
Beliau wafat di Salatiga pada tanggal 10 Desember 1990 M atau 24 Jumadil-ula 1411 H.[2]
B. Metode Hisab KH. ZUBAIR
Perkembangan ilmu falak kontemporer dalam sejarah indonesia tidak akan terlepas dari peranan salah satu tokoh termahsyur yakni KH.Zubair. Melacak dari eksistensi pemikiran beliau dalam ilmu falak dapat ditemukan di kitab Al-khulashah al-wafiyah. kitab Al-khulashah al-wafiyah adalah kitab falak yang disusun oleh K.H. Zubair Umar Al-Jailani yang termasuk dalam kategori hakiki bi al-tahqiq. Semua bentuk hisab dimunculkan dalam kitab al-khulashah al-wafiyah, mulai dari hisab 'urfi[3] , kemudian hisab hakiki taqribi kemudian dilanjutkan kepada hisab hakiki bi al-tahqiq. Olehnya itu hisab urfi hanya didasarkan kepada kaidah-kaidah umum dari gerak atau perjalanan bulan mengelilingi Bumi dalam satu bulan sinodis, yakni satu masa dari ijtimak/konjungsi yang satu ke konjungsi lainnya yang rata-rata ditempuh selama 29h 12j 44m 2d,8. Masa ijtima' tersebut dalam hisab urfi dibuat landasan menetapkan umur bulan, di mana dalam hisab urfi umur bulan selalu bergantian antara 30 hari dan 29 hari, kecuali untuk tahun kabisat bulan Dzulhijjah ditetapkan 30 hari. Satuan masa tahun hijriyah urfi adalah 30 tahun, yang terdiri dari 11 tahun kabisat dan 19 tahun basithah. Penetapan 11 tahun kabisat adalah dari bilangan 44 menit 2,8 detik tiap bulan yang dalam satu tahun dikalikan 12, kemudian dikalikan 30 (untuk 30 tahun), terjumlah 264 jam 16 menit 48 detik. 264 jam = 11 hari. Dengan demikian dalam 30 tahun ada 11 tahun yang jumlah harinya ditambah satu menjadi 355 hari yang diberi nama tahun kabisat, sedangkan untuk tahun basathah umurnya 354 hari.
Hisab hakiki taqribi, sesuai dengan julukannya, hasilnya baru mendekati kebenaran, dan sistemnya sangat sederhana. Hisab hakiki taqribi ini dapat dihitung dan diselesaikan tanpa kalkulator dan computer, karena sistim perhitungannya kebanyakan hanya menambah dan mengurangi belum menggunakan rumus-rumus segitiga bola, perkalian hanya ada dua kali, yaitu, pertama al-bu'du al-ghair al-mu'addal dikalikan 5 menit, kedua, al-bu'du al-mu'ddal dikalikan khishshah al-sa'ah. Sistim hisab hakiki taqribi ini dapat dijumpai dalam kitab Sulam al-Naiyyirain karya K.H. Manshur al-Battawiy, Fatkhur-Rauf al-Mannan, dan dalam kitab al-Khulashah al-Wafiyah. Dalam kitab Sulam al-Naiyyirain dan kitab Fatkhur-Rauf al-Mannan, sistim taqribi sudah final, sedangkan dalam kitab al-Khulashah al-Wafiyah, sistim taqribi belum final, baru proses awal yang harus dilalui untuk melakukan hisab hakiki bit-tahqiq. Dalam hisab hakiki taqribi untuk hisab awal bulan komariyah konstrasi hanya mencari waktu ijtima'. Ketika ijtima' terjadi sebelum maghrib, dalam sistim ini tinggi hilal selalu positip, karena untuk mendapatkan tingggi hilal rumusnya hanyalah waktu maghrib dikurangi waktu ijtima', sisanya dibagi dua kemudian dikalikan 1 derajat.
Hisab hakiki bit-tahqiq, merupakan lanjutan dari hisab hakiki taqribi. Dalam hisab hakiki bit-tahqiq proses perhitungannya mendetail, dengan menggunakan rumus-rumus segitiga bola. Dalam hisab hakiki bit-tahqiq, untuk hisab awal bulan komariyah, konsentrasi tidak hanya menghitung waktu ijtima' saja, akan tetapi juga harus memperhatikan markaznya, yaitu tempat yang dijadikan pusat perhitungan itu harus diketahui dengan jelas bujurnya berapa? Kemudian lintangnya berapa? Bahkan ketinggiannya berapa? Di tempat tersebut maghrib terjadi jam berapa? Pada saat maghrib di tempat tersebut deklinasi matahari atau mail al-syams berapa? Deklinasi atau mail al-qamar berapa? Equation of time atau daqaiq ta'dil al-zamannya berapa? Sudut waktu matahari berapa? Sudut waktu bulan berapa? Tinggi bulan berapa? Azimuth matahari berapa? Azimuth bulan berapa? Elongasi bulan berapa? Dalam melakukan hisab hakiki bit-tahqiq hanya bisa dikerjakan dengan bantuan alat bantu baik yang sederhana seperti, daftar logaritma, maupun yang canggih, seperti scientific calculator ataupun computer.
Hisab hakiki kontemporer, adalah sebagaimana sistim hisab hakiki bit-tahqiq yang diprogram dalam computer yang sudah disesuaikan dengan perkembangan ataupun temuan-temuan baru.
Kitab al-khulashah al-wafiyah di kalangan ahli ilmu falak dikenal sebagai salah satu kitab falak yang masuk kategori hakiki bit-tahqiq yang cukup baik dan banyak yang mengamalkannya. Namun di kalangan masyarakat luas masih banyak yang belum mengenal sistim hisab dalam kitab al-khulashah al-wafiyah, berbeda dengan sulam al-naiyyirain, hampir-hampir semua pesantren melakukan kajian terhadap kitab tersebut. Perlu diketahui bahwa dalam kitab al-khulashah al-wafiyah itu tidak hanya menampilakan sistim hisab hakiki bit-tahqiq saja, akan tetapi juga menampilkan sistim hisab urfi dan sistim hisab hakiki taqribi.Jadi bermacam-macamnya sistem hisab awal bulan komariyah dalam kitab al-khulashah al-wafiyah adalah merupakan proses menuju hisab hakiki bi al-tahqiq, bukan untuk berdiri sendiri yang terpisah dengan yang lainnya.
Data-data astronomis dalam kitab al-khulashah al-wafiyah menggunakan acuan tahun hijriyah dengan menggunakan markaz Makkah al-Mukaramah, sehingga hasib dalam melakukan perhitungan untuk awal bulan komariyah harus berhati-hati, sebab masa sekarang, pada umumnya waktu atau jam yang dipakai adalah menggunakan acuan Green Wich, sebagaimana waktu yang dianut dalam sistem WIB, WITA dan WIT yang masing-masing dengan Green Wich selisih 7 jam, 8 jam dan 9 jam.
Rabu, 30 Desember 2015
LAJNAH FALAKIYAH MIFTAHUL ULUM BAKID
LAJNAH FALAKIYAH MIFTAHUL ULUM
Banyuputih Kidul Po. Box 101 Jatiroto Telp./ Fax. : 0334 – 882800
Lumajang 67355 Jawa Timur
السلام عليكم ورحمة الله وبركا تة
Benda langit atau yang di sebut dengan bintang adalah meliputi Matahari,Bulan, Planet,termasuk Bumi yang kita tempati dan Bintang-bintang nan jauh di sana. Semua benda langit terlihat indah seolah-olah menempel pada bola langit di atas kita,bergerak berputar dan berjalan dari timur ke arah barat. Itu semua akibat Bumi berputar mengelilingi porosnya.
Semua benda langit apapun namanya, Bintang-bintang termasuk Matahari,di ciptakan oleh Allah,pasti ada tujuannya.”Dan(Dia ciptakan) tanda-tanda (Petunjuk jalan) dan dengan Bintang-bintang inilah mereka mendapat petunjuk” (An-Nahl Ayat 16). Inilah salah satu tujuan Allah menciptakan itu semua.
Allah SWT,telah berulang kali menyinggung fenomena alam dengan firman-firman –Nya dalam Al-Qur`an yang di antara lain Surat Yunus Ayat 5 “Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya,dan di ciptakan-Nya Manzilah-manzilah(Tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan Tahun,dan perhitungan(waktu), Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan Haq,Dia menjelaskan Tanda-tanda(kebesaran-Nya)kepada orang-orang yang mengerti.”
Ayat-ayat Al-Qur`an yang demikian itu sudah semestinya menjadi pendorong bagi manusia,khususnya para Santri,untuk memperhatian dan mempelajari benda-benda langit agar menambah keyakinan dan kebesaran kekuasaan Allah SWT. Di samping agar dapat di manfaatkan oleh manusia sendiri untuk menata kehidupan nya sehari-hari.
Pernyataan tentang benda-benda langit yang di kenal dengan Astronomi memang banyak cabang dan ragamnya,satu di antaranya adalah ilmu Falak. Hanya saja,buku-buku ilmu Falak yang ada di Indonesia itu di rasa kurang dan sedikit jumlahnya,bahkan sulit didapati. Disamping itu, pada saat sekarang ini di rasa kurang adanya semangat mempelajari ilmu Falak di kalangan Masyarakat.
Menurut kenyataan diakui bahwa Indonesia terdapat berbagai macam sistem ilmu Hisab atau ilmu Falak,baik yang tumbuh dan berkembang di pesantren-pesantren, perguruan tinggi,maupun di Instansi atau lembaga terkait. Satu di antaranya adalah sistem Ephemeris,yakni ilmu Falak yang menggunakan data dari Ephemeris Hisab Rukyat yang di persiapkan oleh Departemen Agama RI.
Karena data Astronomi yang ada pada Ephemeris Hisab Rukyat itu di olah dengan rumus-rumus SEGITIGA BOLA yang di akui kebenarannya oleh ilmu pengetahuan,maka data Astronomi pada Ephemeris tidak perlu di ragukan kebenarannya.
Oleh karena itu,Pesantern kita membangun sebuah lembaga LFMU (Lajnah Falakiyah Miftahul Ulum) yang baru ini muncul di tengah-tengah ramainya lembaga-lembaga yang lain, karna melihat Pesantren yang sebesar ini yang padam akan pengetahuan ilmu Falak atau Hisabnya.
Kami segenap Kru Lajnah LFMU, akan memaparkan hasil perhitungan Bulan Hijriyah meliputi Ijtimak awal bulan, gerhana matahari, gerhana bulan DLL, yang insya Allah seterusnya akan kami terbitkan setiap ahir bulan Hijriyah.
Nah, sekarang kami akan mengulas tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi pada akhir bulan Hijriyah:
Dari perhitungan yang kami ketahui bahwasanya Ijtimak (berkumpulnya Bulan dan Matahari) menjelang Rajab 1436 H. Terjadi pada hari Ahad, Tanggal 19 April2015 M,. jam 01:58 lewat 18 Detik WIB
Untuk lokasi Banyu putih kidul-Jatiroto-Lumajang:
Matahari terbenam Tgl 19 April 2015 = Jam 17j 36m 18.19d WIB.
Tinggi Hakiki Bulan = 8o21` 41.59” (Di atas Ufuk)
Tinggi Mar`i Bulan = 7o46` 47.58” (Di atas Ufuk Mar`i)
Lama Hilal di atas Ufuk = 0j31m7.17d
Hilal terbenam Jam = 18j7m25.36d WIB
Arah terbenam Hilal = 11o57` 26.33”
Cahaya Hilal = 0.189 (JARI)
Luas cahaya Hilal = 0.00653 (Bagian)
Azimut (Arah) Matahari = 11o23` 10.01”
Azimut (Arah) Bulan = 10o50` 31.28”
Letak dan Posisi Hilal = Hilal berada di sebelah selatan Matahari sejauh 0o 32’ 38.73’’ dengan keadaan Hilal terlentang.
Pernyataan di atas menggunakan metode perhitungan teori EPHEMERIS, berdasarkan hasil Hisab di atas pada hari Ahad Tgl 19 April 2015 Hilal sudah wujud. Maka awal bulan Rajab 1436 H, bertepatan dengan hari Senin Tgl 20 April 2015 M.
Tiada gading yang tak retak. Kami segenap Kru LFMU mengharap kepada para pembaca,apabila menemui kekurangan ataupun kekeliruan dapatlah kiranya memberikan Informasi kepada Kru LFMU untuk perbaikan pada penerbitan yang akan datang.
Banyuputih Kidul, 16 April 2015 M
26 Jumadil Tsani 1436 H
REDAKSI LFMU
Referensi: Muhyiddin khazin,ILMU FALAK Dalam Teori dan Praktik,
Falakiyah Bata-Bata,PECINTA ASTRONOMI sang pemburu hilal.
Banyuputih Kidul Po. Box 101 Jatiroto Telp./ Fax. : 0334 – 882800
Lumajang 67355 Jawa Timur
السلام عليكم ورحمة الله وبركا تة
Benda langit atau yang di sebut dengan bintang adalah meliputi Matahari,Bulan, Planet,termasuk Bumi yang kita tempati dan Bintang-bintang nan jauh di sana. Semua benda langit terlihat indah seolah-olah menempel pada bola langit di atas kita,bergerak berputar dan berjalan dari timur ke arah barat. Itu semua akibat Bumi berputar mengelilingi porosnya.
Semua benda langit apapun namanya, Bintang-bintang termasuk Matahari,di ciptakan oleh Allah,pasti ada tujuannya.”Dan(Dia ciptakan) tanda-tanda (Petunjuk jalan) dan dengan Bintang-bintang inilah mereka mendapat petunjuk” (An-Nahl Ayat 16). Inilah salah satu tujuan Allah menciptakan itu semua.
Allah SWT,telah berulang kali menyinggung fenomena alam dengan firman-firman –Nya dalam Al-Qur`an yang di antara lain Surat Yunus Ayat 5 “Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya,dan di ciptakan-Nya Manzilah-manzilah(Tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan Tahun,dan perhitungan(waktu), Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan Haq,Dia menjelaskan Tanda-tanda(kebesaran-Nya)kepada orang-orang yang mengerti.”
Ayat-ayat Al-Qur`an yang demikian itu sudah semestinya menjadi pendorong bagi manusia,khususnya para Santri,untuk memperhatian dan mempelajari benda-benda langit agar menambah keyakinan dan kebesaran kekuasaan Allah SWT. Di samping agar dapat di manfaatkan oleh manusia sendiri untuk menata kehidupan nya sehari-hari.
Pernyataan tentang benda-benda langit yang di kenal dengan Astronomi memang banyak cabang dan ragamnya,satu di antaranya adalah ilmu Falak. Hanya saja,buku-buku ilmu Falak yang ada di Indonesia itu di rasa kurang dan sedikit jumlahnya,bahkan sulit didapati. Disamping itu, pada saat sekarang ini di rasa kurang adanya semangat mempelajari ilmu Falak di kalangan Masyarakat.
Menurut kenyataan diakui bahwa Indonesia terdapat berbagai macam sistem ilmu Hisab atau ilmu Falak,baik yang tumbuh dan berkembang di pesantren-pesantren, perguruan tinggi,maupun di Instansi atau lembaga terkait. Satu di antaranya adalah sistem Ephemeris,yakni ilmu Falak yang menggunakan data dari Ephemeris Hisab Rukyat yang di persiapkan oleh Departemen Agama RI.
Karena data Astronomi yang ada pada Ephemeris Hisab Rukyat itu di olah dengan rumus-rumus SEGITIGA BOLA yang di akui kebenarannya oleh ilmu pengetahuan,maka data Astronomi pada Ephemeris tidak perlu di ragukan kebenarannya.
Oleh karena itu,Pesantern kita membangun sebuah lembaga LFMU (Lajnah Falakiyah Miftahul Ulum) yang baru ini muncul di tengah-tengah ramainya lembaga-lembaga yang lain, karna melihat Pesantren yang sebesar ini yang padam akan pengetahuan ilmu Falak atau Hisabnya.
Kami segenap Kru Lajnah LFMU, akan memaparkan hasil perhitungan Bulan Hijriyah meliputi Ijtimak awal bulan, gerhana matahari, gerhana bulan DLL, yang insya Allah seterusnya akan kami terbitkan setiap ahir bulan Hijriyah.
Nah, sekarang kami akan mengulas tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi pada akhir bulan Hijriyah:
Dari perhitungan yang kami ketahui bahwasanya Ijtimak (berkumpulnya Bulan dan Matahari) menjelang Rajab 1436 H. Terjadi pada hari Ahad, Tanggal 19 April2015 M,. jam 01:58 lewat 18 Detik WIB
Untuk lokasi Banyu putih kidul-Jatiroto-Lumajang:
Matahari terbenam Tgl 19 April 2015 = Jam 17j 36m 18.19d WIB.
Tinggi Hakiki Bulan = 8o21` 41.59” (Di atas Ufuk)
Tinggi Mar`i Bulan = 7o46` 47.58” (Di atas Ufuk Mar`i)
Lama Hilal di atas Ufuk = 0j31m7.17d
Hilal terbenam Jam = 18j7m25.36d WIB
Arah terbenam Hilal = 11o57` 26.33”
Cahaya Hilal = 0.189 (JARI)
Luas cahaya Hilal = 0.00653 (Bagian)
Azimut (Arah) Matahari = 11o23` 10.01”
Azimut (Arah) Bulan = 10o50` 31.28”
Letak dan Posisi Hilal = Hilal berada di sebelah selatan Matahari sejauh 0o 32’ 38.73’’ dengan keadaan Hilal terlentang.
Pernyataan di atas menggunakan metode perhitungan teori EPHEMERIS, berdasarkan hasil Hisab di atas pada hari Ahad Tgl 19 April 2015 Hilal sudah wujud. Maka awal bulan Rajab 1436 H, bertepatan dengan hari Senin Tgl 20 April 2015 M.
Tiada gading yang tak retak. Kami segenap Kru LFMU mengharap kepada para pembaca,apabila menemui kekurangan ataupun kekeliruan dapatlah kiranya memberikan Informasi kepada Kru LFMU untuk perbaikan pada penerbitan yang akan datang.
Banyuputih Kidul, 16 April 2015 M
26 Jumadil Tsani 1436 H
REDAKSI LFMU
Referensi: Muhyiddin khazin,ILMU FALAK Dalam Teori dan Praktik,
Falakiyah Bata-Bata,PECINTA ASTRONOMI sang pemburu hilal.
https://plus.google.com/111308222011798761401/posts/iSmpShimvvE
https://plus.google.com/111308222011798761401/posts/iSmpShimvvE
Dari Benci Islam Menjadi Pembela Islam
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Mulanya, tak pernah tebersit sedikit pun keinginan di benak pemilik nama lengkap Ita Meigavitri ini untuk memeluk Islam.
Bahkan, perempuan berdarah Tionghoa yang akrab disapa Ita ini mengaku benci luar biasa dengan orang Islam.
“Saya benci sekali. Yang terdoktrin dalam otak saya, Islam itu agama yang senang ribut dan ribet,” kata dia.
Sederhana saja dia mencontohkan. Tidak ada agama yang pemeluknya bolak-balik kehilangan sandal di tempat pengajian selain Islam.
Latar belakang perempuan asal Kutoarjo ini semakin mengkristalkan kebenciannya terhadap risalah Muhammad SAW ini. Sulung dari enam bersaudara ini adalah orang pertama dari keluarga besarnya yang masuk Katolik. Orang tuanya semula menganut Konghucu.
Ita memeluk Katolik lantaran sejak TK-SMA bersekolah di lembaga pendidikan Katolik. Setelah Ita dibaptis, barulah ayah ibu dan adik-adiknya mengikuti jejak masuk Katolik.
“Saya tidak sekadar duduk sebagai umat, tapi menjadi bagian dari tim sukses gereja,” ungkap Ita. Dia aktif menjadi putra-putri altar di gereja.
“Betapa bencinya saya dengan orang Islam. Sampai suatu hari, Allah menuntun saya pada hidayah yang saya terima,” kenang Ita. Seolah takdir, selepas kuliah dia dituntun Allah bekerja di lingkungan Muslim.
Alumni S2 Universitas Tarumanegara, Jakarta itu berprofesi sebagai advokat. Senin sampai Kamis, Ita disibukkan dengan kasus-kasus perceraian, rujuk, atau perebutan hak waris di pengadilan. Jumat-Ahad, dia gunakan untuk beribadah.
Ita mengaku, ketika dia bekerja di lingkungan Muslim, misinya adalah mengkristenkan teman-temannya yang beragama Islam. Identitas kekristenan dengan bangga dia perlihatkan.
“Saat masuk kantor, pulang dari kantor, makan, sampai masuk ruang sidang, saya selalu membuat tanda salib. Tanda salib itu simbol kemenangan bagi umat Katolik,” tutur dia.
Tapi, rupanya tindakan itu membuat teman-temannya risih. Dengan lugas temannya berkata, Katolik bukan agama yang benar jadi tidak ada gunanya Ita berlaku seperti itu. Sontak, perempuan itu pun marah. Ia mengajukan pembelaan.
“Heh, yang salah itu agamamu. Islam itu agama paling tidak rasional,” sahut Ita.
Merasa jengkel, perempuan Tionghoa itu pun pergi ke toko buku mencari Alquran. Dia pilih Alquran cetakan yang paling besar. Ita mengira itu edisi yang paling lengkap.
Begitu sampai di rumah, dia buka kitab suci itu. Sekejap Ita merasa heran. Tulisan macam apa ini. Dia tidak dapat membaca! Ita sempat marah, tapi segeralah dia kembali ke toko buku. Dia tukar dengan Alquran tafsir terjemahan.
Tidak ada cita-cita untuk menjadi Muslim dengan membeli kitab suci itu. “Saya tidak ingin sama sekali, wong kayane ribet banget jadi wong Muslim (Orang sepertinya ribet sekali jadi Muslim),” kata Ita.
Justru, ambisinya adalah mencari kesalahan di dalam Alquran. Dia ingin menunjukkan kesalahan-kesalahan kitab suci umat Islam itu pada para koleganya yang beragama Islam.
Namun, Allah Maha membolak-balikkan hati seorang hamba. Perempuan itu malah jatuh hati pada Alquran. Dia merasa tidak ada satupun kalimat yang salah atau kontradiktif dalam Alquran.
Seketika, dia tergerak untuk mengenali Alkitab. Selama 33 tahun menjadi Nasrani, kata Ita mengaku, belum pernah sekalipun dia meneliti Alkitab. “Alquran sudah saya pelajari, saya jadi ingin mempelajari Injil. Jangan-jangan yang salah Injil,” kata dia.
Giliran membuka Alkitab, Ita kaget luar biasa. Dia terantuk pada satu ayat dalam Imamat 11. Ayat itu menyebutkan, haram bagimu makan babi dan binatang berkuku belah.
Bahkan, bangkainya pun jangan kamu sentuh. Ita heran, merasa selama ini umat Katolik sah-sah saja makan daging anjing dan babi. Setelah itu, Ita makin berminat membuka Alkitab.
Ia temukan ayat-ayat lain yang menunjukkan ketidaksesuaian antara ajaran Alkitab dengan praktik gereja. Misalnya, dalam surat Korintus tertulis, hai wanita kenakanlah tudung pada kepalamu. Itu berarti wanita harus berjilbab.
Tapi, hanya suster-suster yang diwajibkan berjilbab. Alkitab juga mengajarkan laki-laki bersunat, tapi umat Nasrani tidak melakukan. “Bukan Alkitab yang salah, tapi penerapannya yang tidak pas,” kata Ita.
Menurut dia, Yesus pun mengajarkan dua kalimat syahadat. Yesus tidak pernah menyebut dirinya Tuhan dan menyuruh manusia menyembah hanya kepada Allah. Sama seperti Alquran, Alkitab mengajarkan khitan, berwudhu, mandi junub, berjilbab, shalat menghadap ke kiblat, hukum qisas, dan larangan membungakan uang.
Kini, Ita aktif menjadi seorang pendakwah. Semangatnya semasa Katolik mewaris dalam nadinya setelah masuk Islam. Perempuan itu aktif mengisi pengajian di berbagai tempat.
Walau sering mendapat ancaman saat berdakwah, ia tidak surut. Ita juga mengaku membina puluhan mualaf di rumahnya. Sebagian adalah orang-orang Katolik, Kristen, dan Tionghoa yang terbuang dari keluarga.
Bahkan, perempuan berdarah Tionghoa yang akrab disapa Ita ini mengaku benci luar biasa dengan orang Islam.
“Saya benci sekali. Yang terdoktrin dalam otak saya, Islam itu agama yang senang ribut dan ribet,” kata dia.
Sederhana saja dia mencontohkan. Tidak ada agama yang pemeluknya bolak-balik kehilangan sandal di tempat pengajian selain Islam.
Latar belakang perempuan asal Kutoarjo ini semakin mengkristalkan kebenciannya terhadap risalah Muhammad SAW ini. Sulung dari enam bersaudara ini adalah orang pertama dari keluarga besarnya yang masuk Katolik. Orang tuanya semula menganut Konghucu.
Ita memeluk Katolik lantaran sejak TK-SMA bersekolah di lembaga pendidikan Katolik. Setelah Ita dibaptis, barulah ayah ibu dan adik-adiknya mengikuti jejak masuk Katolik.
“Saya tidak sekadar duduk sebagai umat, tapi menjadi bagian dari tim sukses gereja,” ungkap Ita. Dia aktif menjadi putra-putri altar di gereja.
“Betapa bencinya saya dengan orang Islam. Sampai suatu hari, Allah menuntun saya pada hidayah yang saya terima,” kenang Ita. Seolah takdir, selepas kuliah dia dituntun Allah bekerja di lingkungan Muslim.
Alumni S2 Universitas Tarumanegara, Jakarta itu berprofesi sebagai advokat. Senin sampai Kamis, Ita disibukkan dengan kasus-kasus perceraian, rujuk, atau perebutan hak waris di pengadilan. Jumat-Ahad, dia gunakan untuk beribadah.
Ita mengaku, ketika dia bekerja di lingkungan Muslim, misinya adalah mengkristenkan teman-temannya yang beragama Islam. Identitas kekristenan dengan bangga dia perlihatkan.
“Saat masuk kantor, pulang dari kantor, makan, sampai masuk ruang sidang, saya selalu membuat tanda salib. Tanda salib itu simbol kemenangan bagi umat Katolik,” tutur dia.
Tapi, rupanya tindakan itu membuat teman-temannya risih. Dengan lugas temannya berkata, Katolik bukan agama yang benar jadi tidak ada gunanya Ita berlaku seperti itu. Sontak, perempuan itu pun marah. Ia mengajukan pembelaan.
“Heh, yang salah itu agamamu. Islam itu agama paling tidak rasional,” sahut Ita.
Merasa jengkel, perempuan Tionghoa itu pun pergi ke toko buku mencari Alquran. Dia pilih Alquran cetakan yang paling besar. Ita mengira itu edisi yang paling lengkap.
Begitu sampai di rumah, dia buka kitab suci itu. Sekejap Ita merasa heran. Tulisan macam apa ini. Dia tidak dapat membaca! Ita sempat marah, tapi segeralah dia kembali ke toko buku. Dia tukar dengan Alquran tafsir terjemahan.
Tidak ada cita-cita untuk menjadi Muslim dengan membeli kitab suci itu. “Saya tidak ingin sama sekali, wong kayane ribet banget jadi wong Muslim (Orang sepertinya ribet sekali jadi Muslim),” kata Ita.
Justru, ambisinya adalah mencari kesalahan di dalam Alquran. Dia ingin menunjukkan kesalahan-kesalahan kitab suci umat Islam itu pada para koleganya yang beragama Islam.
Namun, Allah Maha membolak-balikkan hati seorang hamba. Perempuan itu malah jatuh hati pada Alquran. Dia merasa tidak ada satupun kalimat yang salah atau kontradiktif dalam Alquran.
Seketika, dia tergerak untuk mengenali Alkitab. Selama 33 tahun menjadi Nasrani, kata Ita mengaku, belum pernah sekalipun dia meneliti Alkitab. “Alquran sudah saya pelajari, saya jadi ingin mempelajari Injil. Jangan-jangan yang salah Injil,” kata dia.
Giliran membuka Alkitab, Ita kaget luar biasa. Dia terantuk pada satu ayat dalam Imamat 11. Ayat itu menyebutkan, haram bagimu makan babi dan binatang berkuku belah.
Bahkan, bangkainya pun jangan kamu sentuh. Ita heran, merasa selama ini umat Katolik sah-sah saja makan daging anjing dan babi. Setelah itu, Ita makin berminat membuka Alkitab.
Ia temukan ayat-ayat lain yang menunjukkan ketidaksesuaian antara ajaran Alkitab dengan praktik gereja. Misalnya, dalam surat Korintus tertulis, hai wanita kenakanlah tudung pada kepalamu. Itu berarti wanita harus berjilbab.
Tapi, hanya suster-suster yang diwajibkan berjilbab. Alkitab juga mengajarkan laki-laki bersunat, tapi umat Nasrani tidak melakukan. “Bukan Alkitab yang salah, tapi penerapannya yang tidak pas,” kata Ita.
Menurut dia, Yesus pun mengajarkan dua kalimat syahadat. Yesus tidak pernah menyebut dirinya Tuhan dan menyuruh manusia menyembah hanya kepada Allah. Sama seperti Alquran, Alkitab mengajarkan khitan, berwudhu, mandi junub, berjilbab, shalat menghadap ke kiblat, hukum qisas, dan larangan membungakan uang.
Kini, Ita aktif menjadi seorang pendakwah. Semangatnya semasa Katolik mewaris dalam nadinya setelah masuk Islam. Perempuan itu aktif mengisi pengajian di berbagai tempat.
Walau sering mendapat ancaman saat berdakwah, ia tidak surut. Ita juga mengaku membina puluhan mualaf di rumahnya. Sebagian adalah orang-orang Katolik, Kristen, dan Tionghoa yang terbuang dari keluarga.
Kamis, 29 Oktober 2015
Mensucikan Jiwa Adalah Jalan Kebahagiaan
Mensucikan Jiwa Adalah Jalan Kebahagiaan
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sesungguhnya telah beruntunglah orang yang mau mensucikan jiwanya.” (Qs. As Syams : 9)Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah menyebutkan bahwa manusia itu terbagi menjadi dua golongan :
1. Golongan yang terkalahkan oleh nafsunya, sehingga setiap perilakunya dikendalikan oleh nafsunya.
2. Golongan yang mampu mengekang dan mengalahkan nafsunya sehingga nafsu tersebut tunduk pada perintahnya.
Dari dua golongan tersebut, maka manusia diberi pilihan oleh Allah untuk menentukan ingin menjadi golongan yang manakah ia. Golongan penyembah hawa nafsu atau golongan pengendali hawa nafsu.
Allah subhanahu wata’ala juga telah menyebutkan dalam firman-Nya yang lain :
فَأَمَّا مَن طَغَى {37}
وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {38} فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى
{39} وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
{40} فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى {41}
“Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan
kehidupan dunia, maka nerakalah tempat tinggalnya. Sedangkan mereka yang
takut pada kebesaran Rabb-Nya dan menahan diri dari keinginan hawa
nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (Qs. An Nazi’at : 37 – 41)Nafsu memang ada yang mengajak kepada kebaikan dan ada pula yang menyesatkan. Maka pilihlah yang mengajak pada kebaikan yaitu nafsu dalam mendekatkan diri kepada Allah, agar selamat di dunia dan akhirat.
Adapun nafsu kepada kejahatan, telah berkata Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mukhtashor Minhajul Qoshidin : “Ketahuilah bahwa musuh bebuyutanmu adalah nafs kamu yang ada di sisimu. Dan telah diciptakan nafs yang menyeru kepada kejahatan, cenderung kepada kejelekan. Engkau telah diperintahkan untuk menghukuminya, mensucikannya dan menceraikannya dari sumber-sumbernya.”
Memang tidak mudah usaha untuk mensucikan jiwa ini, apalagi bagi manusia yang sudah terlalu sering melakukan kemaksiatan. Namun, bukan tidak mungkin perubahan itu terjadi karena Allah senantiasa membuka pintu-Nya untuk manusia menjemput hidayah. Sebelum hembusan nafas yang terakhir, marilah kita memulai untuk menjadi lebih baik dengan tazkiyatun nafs atas diri kita. Wallau’alam.
(fauziya/muslimahzone.com)
Kala Kuputuskan Menikah dengan Lelaki yang Kurang Agamanya
Jawaban:
Sesungguhnya hal terpenting yang harus diperhatikan seorang wanita terhadap calon suaminya ialah keshalehan dan keistiqamahannya. Karena, dengan keistiqamahan suaminya, akan diperoleh kebaikan yang besar. Namun, terkadang ada wanita yang bersemangat membuat suaminya shaleh, tetapi dia menempuh berbagai jalan yang keliru, sehingga malah meninggalkan akibat-akibat yang tidak baik dan sangat beresiko. Kalau begitu, wanita haruslah memiliki kebijakan dan kesabaran, serta bersenjatakan doa kepada Allah Ta’ala.
Berikut ini ada beberapa usulan dan nasehat untukmu:
- Untuk memperbaiki suami, terkadang diperlukan waktu yang lama sampai bertahun-tahun, dengan kerja terus menerus tanpa henti untuk memperbaikinya.
- Istri harus memulai dari yang terpenting, lalu yang terpenting berikutnya, seperti shalat, barulah kewajiban-kewajiban lainnya. Oleh karena itu, jangan mendahulukan yang tidak wajib atas yang wajib.
- Berdakwah kepada suami harus dilakukan secara bertahap.
- Jangan bergabung dengan suami dalam melakukan maksiat apa pun. Berdakwah untuk memperbaiki suami, bukanlah alasan untuk melakukan maksiat seperti itu. Tetapi, dengan cara yang halus suruhlah suami memilih tidak melakukan maksiat. Karena bagaimanapun, maksiat adalah hal yang dimurkai Allah.
- Gunakan waktu-waktu yang cocok, ketika suami dalam keadaan tenang, umpamanya, untuk menyampaikan nasehat atau bimbingan kepadanya.
- Walaupun suami telah menerima seruan istrinya, ia tetap harus menjaga perasaan suami, jangan sampai dia merasa istrinya merendahkannya.
- Istri harus senantiasa menjadi teladan yang baik bagi suaminya dalam melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.
- Berupaya mengajak suami berteman dengan teman-teman yang shaleh, baik lewat keluarga ataupun teman-temanmu.
- Terkadang baik juga meminta tolong kepada salah seorang kerabat untuk menasehati dan mengarahkan suami.
Dikutip dari buku Smart Solving Problem Rumah Tangga, edisi bahasa Indonesia “Kullu Musykilah Zaujiyyah Iaha Hall”, karya Nabil Ibnu Muhammad.
(fatima/muslimahzone.com)
Perasaan yang Mendahului Pernikahan
Perasaan yang Mendahului Pernikahan
Kalau kemudian ia menikah dengan Muhammad, pemuda miskin yang yatim piatu itu, bukan karena tak ada orang yang meminangnya. Telah banyak yang datang kepadanya, dan sebanyak itulah ia tidak bersedia menjadi istri. Padahal mereka adalah orang-orang kaya, orang-orang berpengaruh, orang-orang terhormat, orang-orang dari kalangan bangsawan dan orang-orang yang sangat diperhitungkan di antara kaumnya.
Ia memilih Muhammad karena ia menyukai. Ia memilih Muhammad karena ia tahu akhlak Muhammad yang tinggi dan perilakunya halus. Kepada Muhammad ia mengatakan, “Wahai Muhammad, aku senang kepadamu karena kekerabatanmu dengan aku, kemuliaanmu dan pengaruhmu di tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan kejujuran bicaramu.”
Ketika simpati itu ada, dan perasannya menguat, Khadijah mulai berketetapan bahwa Muhammadlah yang paling berhak untuk menjadi suaminya. Sebaik-baik orang yang pantas untuk didampingi dengan kesetiaan penuh dan kecintaan yang dalam adalah Muhammad.
Ketika perasaan itu menguat dan ketetapan sudah bulat, ia menyuruh pembantu laki-lakinya Maisarah untuk memperhatikan gerak-gerik Muhammad. Ia mengirim utusan kepada Muhammad untuk memintanya berangkat ke Syam membawa barang dagangan Khadijah dalam suatu kafilah.
Khadijah menyertakan Maisarah dalam kafilah itu agar dapat memperhatikan gerak-gerik dan tingkah lakunya dari dekat. Sehingga Khadijah memperoleh keterangan dari orang yang benar-benar mengetahui, tidak menurut kabar burung yang belum jelas kebenarannya.
Khadijah kemudian memberanikan diri untuk menawarkan diri kepada Muhammad. Ia berharap Muhammad akan menanggapi pikiran dan perasaannya, tetapi ia tidak melihat tanda-tanda yang menunjukkan hal itu pada diri Muhammad. Ia ingin menjajagi bagaimana sesungguhnya pikiran dan perasaan Muhammad. Karena itu, Khadijah kemudian meminta temannya, Nafisah binti Munayyah, menemui Muhammad.
Di sejumlah buku sirah, kita dapati nukilan percakapan antara Nafisah binti Munayyah dengan Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu belum menjadi rasul. Saya tidak berani mengutipkan di sini karena percakapan tersebut tidak memiliki sandaran riwayat yang kuat. Karena itu, saya memilih untuk menyampaikan hal-hal pokok terkait peristiwa ini, yakni atas perantaraan Nafisah binti Munayyah, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam akhirnya berkenan menikah dengan Khadijah al-Kubra. Ketika Muhammad tidak memiliki harta yang cukup untuk disebut besar.
Tepat pada waktu yang telah ditetapkan bersama oleh keluarga dari kedua belah pihak, berangkatlah Muhammad bersama beberapa orang paman beliau, dipimpin oleh Abu Thalib, untuk secara resmi menyampaikan lamaran kepada Khadijah. Ketika masanya tiba, sejarah pun mencatat peristiwa akad nikah yang paling barakah. Tak ada yang lebih barakah dari pernikahan itu sesudahnya.
Begitu kisah pernikahan Siti Khadijah dan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Ada perasaan yang mendahului pada diri Khadijah karena terkesan oleh akhlaknya, kemudian diseriusi dengan usaha untuk mencapai pernikahan. Kelak dari pernikahan ini, lahir manusia-manusia suci yang dimuliakan Allah. Lahir Zainab yang memiliki putri Umamah. Lahir Fathimah yang dari rahim sucinya Allah mengaruniakan keturunan paling mulia, Al-Hasan dan Al-Husain.
Jadi, kalau suatu saat ada rasa simpati yang tumbuh kepada seorang ikhwan, tanyakanlah kesungguhan hati Anda. Jika perasaan itu terus mekar dan memantapkan keinginan untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya, periksalah akhlak dan agamanya. Anda bisa mencari seorang Maisarah yang dapat memperhatikan gerak-geriknya dari dekat, sehingga anda mendapatkan informasi mengenai akhlak, agama dan sikapnya dari orang yang memang mengetahui sendiri. Bukan dari cerita-cerita yang tak jelas sumbernya. Anda bisa mengingat kisah percakapan Umar dengan orang yang akan menyampaikan informasi mengenai seseorang.
Kalau Anda telah mendapatkan informasi yang semakin meyakinkan Anda, kini saatnya Anda bisa mencari seorang Nafisah binti Munayyah untuk menjajagi perasaan dan pikiran orang yang Anda harapkan. Seorang wanita yang matang lebih bisa membicarakan masalah-masalah gerak hati wanita dan menyelami pikiran laki-laki. Apalagi kalau sudah mempunyai beberapa anak.*
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Facebook. Mohammad Fauzil Adhim, Twitter: @Kupinang. Tulisan ini merupakan nukilan dari tulisan lama yang tidak saya publikasikan. Saya tulis sekitar tahun 1996 atau 1997
(fauziya/muslimahzone.com)
Melembutkan Hati dengan Bershalawat Kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam
Melembutkan Hati dengan Bershalawat Kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam
Ibnu Al ‘Arabiy menjelaskan, “…Lalu –pada hadits ini dijelaskan bahwa Allah ‘azza wa jalla bershalawat atasnya sepuluh kali. Maksudnya, Allah ingat kepada seorang hamba jauh lebih bernilai dibandingkan dilipatgandakannya pahala suatu amal. Demikianlah Allah ‘azza wa jalla menjadikan balasan dzikir kepada-Nya adalah dzikir(ingat)Nya kepada si hamba, dan balasan dzikir (shalawat) kepada nabi adalah ingatnya nabi kepada si hamba tadi.”
Al ‘Iraqi menambahkan, “Bahkan bukan itu saja. Dituliskan baginya sepuluh kebajikan, dihapus darinya sepuluh kejahatan, dan diangkatlah ia sepuluh derajat, seperti tersebut dalam banyak hadits.”
Dari Anas bin Malik bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa mendengar namaku disebut, hendaknya ia bershalawat atasku. Barangsiapa bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Dalam riwayat lain, disebutkan “Barangsiapa bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kejahatan, dan diangkatlah ia sepuluh derajat”. (HR. Ibnu As Sunniy no.382 dalam Al Adzkar)
Secara tekstual, hadits di atas menunjukkan wajibnya bershalawat atas Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam. Ini didukung oleh hadits lain, “Seorang yang bakhil adalah seorang yang namaku disebut, lalu ia tidak bershalawat atasku”. (HR. An Nasa’iy dan At Tirmidzi)
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang melanglang buana, menyampaikan salam ummatku kepadaku.” (HR. Ahmad)
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam, “Manusia yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti adalah yang paling banyak bershalawat atasku.” (HR. At Tirmidzi)
Aus bin Aus meriwayatkan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Di antara hari-hari yang utama bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu, Adam diciptakan dan diwafatkan. Pada hari itu pula akan terjadi tiupan yang pertama dan kedua.Karena itu, perbanyaklah shalawat atasku pada hari itu. Sesungguhnya shalawat kalian atasku akan diperlihatkan kepadaku”. Para sahabat bertanya, “Bagaimana mungkin ya Rasulullah, sedangkan engkau telah tiada?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Ibnu Majah, Al Jana’iz I/524)
Adapun tentang lafadz shalawat, Abu Mas’ud Al Anshariy meriwayatkan, “Ketika kami sedang bermajlis dengan Sa’ad bin Ubadah, Rasulullah datang. Basyir bin Sa’da bertanya, “Allah memerintahkan kami untuk bershalawat atasmu wahai Rasulullah. Bagaimanakah kami melakukannya?” Rasulullah diam beberapa saat sampai-sampai kami berpikir, alangkah baiknya jika Basyir tidak menanyakan hal itu kepada beliau. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Bacalah: ‘Ya Allah, berilah shalawat atas Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat atas keluarga Ibrahim. Juga berkatilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Di seluruh alam semesta, sesungguhNya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.’ Adapun lafal salam adalah seperti yang telah kalian ketahui.” (HR. Muslim dalam As Shalah IV/123)
Dikutip dari buku Tadzkiyatun Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Ulama Shalafushshalih karya Dr. Ahmad Farid
(esqiel/muslimahzone.com)
Kala Kuputuskan Menikah dengan Lelaki yang Kurang Agamanya
Kala Kuputuskan Menikah dengan Lelaki yang Kurang Agamanya
Jawaban:
Sesungguhnya hal terpenting yang harus diperhatikan seorang wanita terhadap calon suaminya ialah keshalehan dan keistiqamahannya. Karena, dengan keistiqamahan suaminya, akan diperoleh kebaikan yang besar. Namun, terkadang ada wanita yang bersemangat membuat suaminya shaleh, tetapi dia menempuh berbagai jalan yang keliru, sehingga malah meninggalkan akibat-akibat yang tidak baik dan sangat beresiko. Kalau begitu, wanita haruslah memiliki kebijakan dan kesabaran, serta bersenjatakan doa kepada Allah Ta’ala.
Berikut ini ada beberapa usulan dan nasehat untukmu:
- Untuk memperbaiki suami, terkadang diperlukan waktu yang lama sampai bertahun-tahun, dengan kerja terus menerus tanpa henti untuk memperbaikinya.
- Istri harus memulai dari yang terpenting, lalu yang terpenting berikutnya, seperti shalat, barulah kewajiban-kewajiban lainnya. Oleh karena itu, jangan mendahulukan yang tidak wajib atas yang wajib.
- Berdakwah kepada suami harus dilakukan secara bertahap.
- Jangan bergabung dengan suami dalam melakukan maksiat apa pun. Berdakwah untuk memperbaiki suami, bukanlah alasan untuk melakukan maksiat seperti itu. Tetapi, dengan cara yang halus suruhlah suami memilih tidak melakukan maksiat. Karena bagaimanapun, maksiat adalah hal yang dimurkai Allah.
- Gunakan waktu-waktu yang cocok, ketika suami dalam keadaan tenang, umpamanya, untuk menyampaikan nasehat atau bimbingan kepadanya.
- Walaupun suami telah menerima seruan istrinya, ia tetap harus menjaga perasaan suami, jangan sampai dia merasa istrinya merendahkannya.
- Istri harus senantiasa menjadi teladan yang baik bagi suaminya dalam melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.
- Berupaya mengajak suami berteman dengan teman-teman yang shaleh, baik lewat keluarga ataupun teman-temanmu.
- Terkadang baik juga meminta tolong kepada salah seorang kerabat untuk menasehati dan mengarahkan suami.
Dikutip dari buku Smart Solving Problem Rumah Tangga, edisi bahasa Indonesia “Kullu Musykilah Zaujiyyah Iaha Hall”, karya Nabil Ibnu Muhammad.
(fatima/muslimahzone.com)
Inilah 10 Ibunda Para Ulama, Para Pengukir Sejarah
Inilah 10 Ibunda Para Ulama, Para Pengukir Sejarah
Di antara contoh idealnya adalah ibu kita, Khadijah radhiallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ. Beliau adalah seorang wanita super istimewa. Keistimewaannya adalah penghargaan terhadap peranan-peranannya. Ia adalah seorang wanita yang sukses dalam bisnis.
Bertanggung jawab di rumah dan berperan untuk anak-anaknya. Lihatlah anak-anaknya, terwarisi karakter mulia dan luhur. Ia adalah orang yang terbaik bagi Rasulullah ﷺ.
Membaca kisah hidup para ulama, para pembimbing umat dan masyarakat, Anda akan menyaksikan bagaimana ibu mereka mendidik dan menanamkan karakter mulia kepada mereka. Ibu mereka menanamkan dasar-dasar agama dan pokok-pokok akidah islamiyah untuk buah hatinya. Lalu pribadi-pribadi mulia tertempa menjadi anak-anak akhirat bukan anak-anak dunia.
Ketika kita lupa dan lalai terhadap peranan ini, maka akan lahirlah generasi yang gamang akidah dan agamanya. Generasi yang mudah terombang-ambing tak berprinsip. Mereka tergerus mengalir bersama zaman, terbang bersama hembusan angin pemikiran.
Sejarah kita mencatat contoh ibu-ibu yang istimewa. Ibu-ibu yang melahirkan tokoh-tokoh besar ulama Islam. Mereka inilah yang terdepan untuk dijadikan teladan, wahai pemudi-pemudi Islam.
1. al-Khansa, Tumadhar binti Amr bin al-Harits Ibu Para Mujahid
Ketika umat Islam bersiap dan menghitung jumlah pasukan menghadapi Perang Qadisiyah, saat itu pula al-Khansa bersama empat orang putranya siap berangkat bersama pasukan berjumpa dengan pasukan Persia.Dalam sebuah kemah di tengah ribuan kemah lainnya, al-Khansa mengumpulkan keempat putranya. Ia berwasiat, “Anak-anakku, kalian memeluk Islam dengan penuh ketaatan dan hijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia, sungguh kalian terlahir dari ibu yang sama. Aku tidak pernah mengkhianati ayah kalian. Tak pernah mempermalukan paman kalian. Tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian. Dan tak pernah pula menyamarkan nasab kalian. Kalian semua tahu balasan besar yang telah Allah siapkan bagi seorang muslim dalam memerangi orang-orang yang kafir. Ketahuilah (anak-anakku), negeri yang kekal itu lebih baik dari tempat yang fana ini. Allah Ta’ala berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan
bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS:Ali Imran | Ayat: 200).Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan kepada Allah atas musuh-musuh-Nya”.
Ketika sinar pagi telah terbit, kedua pasukan pun bertemu. Gugurlah orang-orang yang ditakdirkan gugur. Dan mereka yang ditakdirkan hidup, akan tetap hidup walaupun berangkat mencari kematian.
Usai peperangan, al-Khansa mencari kabar tentang putra-putranya. Kabar syahid anak-anaknya sampai kepadanya. Ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap Rabbku mengumpulkanku bersama mereka dalam kasih sayang-Nya.”
2. Ibu Sufyan ats-Tsaury
Sufyan ats-Tsaury adalah tokoh besar tabi’ at-tabi’in. Ia seorang fakih yang disebut dengan amirul mukminin fil hadits (pemimpin umat Islam dalam hadits Nabi). Di balik ulama besar generasi ketiga ini, ada seorang ibu yang shalihah. Ibu yang mendidik dan menginfakkan waktu untuk membimbingnya. Sufyan mengisahkan, “Saat aku berencana serius belajar, aku bergumam, ‘Ya Rabb, aku harus punya penghasilan (untuk modal belajar pen.)’. Sementara kulihat ilmu itu pergi dan menghilang. Apakah kuurungkan saja keinginan belajar. Aku memohon kepada Allah agar Dia (Yang Maha Pemberi rezeki) mencukupiku”.Beliau merasa bimbang jika menuntut ilmu, maka butuh modal dan bekal. Jika mencari modal dan bekal tidak bisa fokus belajar. Karena ilmu itu mudah pergi dan menghilang.
Datanglah pertolongan Allah melalui ibunya. Ibunya berkata, “Wahai Sufyan anakku, belajarlah..aku yang akan menanggungmu dengan usaha memintalku”.
Ibunya menyemangati, menasihati, dan mewasiatinya agar semangat menggapai pengetahuan. Di antara ucapan ibunya adalah “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! Apakah kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Allah), kelemah-lembutanmu, dan ketenanganmu? Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu. Ia tidak bermanfaat untukmu”.
Inilah di antara bentuk perjuangan ibu Sufyan ats-Tausry.
3. Ibu Imam Malik bin Anas
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Uwais, “Aku mendengar pamanku, Malik bin Anas, bercerita, ‘Dulu, sewaktu aku kecil, ibuku biasa memakaikanku pakaian dan mengenakan imamah untukku. Kemudian ia mengantarkanku kepada Rabi’ah bin Abi Abdirrahman. Ibuku mengatakan, ‘Anakku, datanglah ke majelisnya Rabi’ah. Pelajari akhlak dan adabnya sebelum engkau mempelajari hadits dan fikih darinya’.”4. Ibu Imam asy-Syafi’i
Ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menjadi seorang imam besar. Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza menuju Mekah.Di Mekah, ia mempeljari Al-quran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Kemudian sang ibu mengirim anaknya ke pedesaan yang bahasa Arabnya masih murni. Sehingga bahasa Arab pemuda Quraisy ini pun jadi tertata dan fasih.
Setelah itu, ibunya memperhatikannya agar bisa berkuda dan memanah. Jadilah ia seorang pemanah ulung. 100 anak panah pernah ia muntahkan dari busurnya, tak satu pun meleset dari sasaran.
Dengan taufik dari Allah ﷻ kemudian kecerdasan dan kedalaman pemahamannya, saat beliau baru berusia 15 tahun, Imam asy-Syafi’i sudah diizinkan Imam Malik untuk berfatwa. Hal itu tentu tidak terlepas dari peranan ibunya yang merupakan seorang muslimah yang cerdas dan pelajar ilmu agama.
Imam asy-Syafi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku adalah seorang anak yatim.Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku… …aku menghafal Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Alquranku, aku masuk ke masjid,duduk di majelisnya para ulama.Kuhafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas.Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.
Walaupun memiliki keterbatasan materi, ibu Imam asy-Syafi’i tetap memberi perhatian luar biasa terhadap pendidikan anaknya.
5. Ibu Imam Ahmad bin Hanbal
Ibu Imam Ahmad bernama Shafiyah binti Maimunah binti Abdul Malik. Ayahnya wafat di usia muda, 30 tahun. Ibunya pun hidup menjanda dan enggan menikah lagi, walaupun usianya belum mencapai 30 tahun.Ia hanya ingin fokus memenuhi kehidupannya untuk anaknya. Buah usahanya adalah yang kita tahu saat ini.Imam Ahmad menjadi salah seorang imam besar bagi kaum muslimin.ia adalah imam madzhab yang empat. Semoga Allah merahmati ibu Imam Ahmad.6. Ibu Imam al-Bukhari
Imam al-Bukhari tumbuh besar sebagai seorang yatim.Ibunyalah yang mengasuhnya. Ibunya mendidiknya dengan pendidikan yang terbaik. Mengurus keperluannya, mendoakannya, dan memotivasinya untuk belajar dan berbuat baik.Saat berusia 16 tahun, ibunya mengajak Imam al-Bukhari bersafar ke Mekah. Kemudian meninggalkan putranya di negeri haram tersebut. Tujuannya agar sang anak dapat menimba ilmu dari para ualma Mekah. Dari hasil bimbingan dan perhatian ibunya, jadilah Imam al-Bukhari seperti yang kita kenal saat ini.Seorang ulama yang gurunya pernah mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih hebat darinya (dalam ilmu hadits)”.
7. Ibu Ibnu Taimiyah
“Demi Allah, seperti inilah caraku mendidikmu. Aku nadzarkan dirimu untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin.Aku didik engkau di atas syariat agama.Wahai anakku, jangan kau sangka, engkau berada di sisiku itu lebih aku cintai dibanding kedekatanmu pada agama, berkhidmat untuk Islam dan kaum muslimin walaupun kau berada di penjuru negeri. Anakku, ridhaku kepadamu berbanding lurus dengan apa yang kau persembahkan untuk agamamu dan kaum muslimin. Sungguh –wahai ananda-, di hadapan Allah kelak aku tidak akan menanyakan keadaanmu, karena aku tahu dimana dirimu dan dalam keadaan seperti apa engkau. Yang akan kutanyakan dihadapan Allah kelak tentangmu –wahai Ahmad- sejauh mana khidmatmu kepada agama Allah dan saudara-saudaramu kaum muslimin”.Inilah surat yang ditulis ibu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada dirinya, setelah beliau memohon izin kepada sang ibu untuk tetap tinggal di Mesir.
Surat ini memberikan kesan yang cukup mendalam kepada kita tentang bagaimana sosok ibunda Ibnu Taimiyah. Wanita shalihah yang berorientasi akhirat. Wanita kuat yang lebih senang anaknya bermanfaat bagi orang banyak ketimbang untuk dirinya sendiri. Wanita cerdas yang menjadikan anaknya investasi untuk kehidupan setelah kematian.
Ibunda Ibnu Taimiyah memberikan kesan bahwa ia adalah wanita yang teguh jiwa dan hatinya. Semoga Allah merahmatinya.
8. Saudari Imam Ibnu Hajar al-Asqalani
Ia adalah seorang wanita yang cerdas dan senang menelaah buku-buku. Ibnu Hajar memujinya dengan mengatakan, “Ia adalah ibuku setelah ibuku (yang melahirkanku pen.)”. Ia adalah seorang wanita yang memiliki banyak ijazah dari ulama Mekah, Damaskus, Balbek, dan Mesir.Ibnu Hajar mengatakan, “Ia mempelajari khat, menghafal banyak surat Al-quran, termasuk orang yang banyak menelaah buku, dan ia pandai dalam hal itu”. Kata Ibnu Hajar pula, “Ia baik dan sangat sayang kepadaku”.
Karena begitu besar pengatuh saudarinya dalam kehidupannya, sampai-sampai Ibnu Hajar membuat syair tentangnya ketika ia meninggal.
9. Ibu Abdurrahman bin an-Nashir
Amirul mukminin Abdurrahman bin an-Nashir adalah penguasa Andalusia yang kala itu tengah dilanda kegoncangan. Kemudian ia berhasil membuat wilayah itu stabil. Ia berhasil memimpin pasukannya masuk ke jantung wilayah Perancis dan sebagian wilayah Swiss. Kemudian menguasai Italia. Ia pun menjadi raja terbesar di Eropa.Di belakangnya ada seorang wanita yang berhasil mendidik dan membinanya. Abdurrahman an-Nashir adalah seorang yatim yang dibesarkan ibunya. Sang ayah tewas dibunuh pamannya saat Abdurrahman masih kecil.
10. Ibu Sultan Muhammad al-Fatih
Setelah shalat subuh, Ibu Sultan Muhammad al-Fatih mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia berkata, “Engkau –wahai Muhammad- akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Muhammad kecil pun bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu?” “Dengan Al-quran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia”, jawab sang ibu penuh hikmat.Itulah ibu Muhammad al-Fatih, mendidik anaknya di waktu berkah pagi hari. Dia tidak membiarkan anaknya terbiasa dengan tidur di waktu pagi. Ia lakukan sesuatu yang menarik perhatian sang anak. Memotivasinya dengan sesuatu yang besar dengan dasar agama dan kasih sayang, bukan spirit penjajahan.
Sumber: islamstory.com/ar/امهات-خالدات-في-التاريخ-الاسلامي
(kisahmuslim/muslimahzone.com
Nikmat Menikah: Malam Jum’at, Ya Baca Al Kahfi Bersama Ya Bercinta
Nikmat Menikah: Malam Jum’at, Ya Baca Al Kahfi Bersama Ya Bercinta
Di malam Jum’at misalnya. Ada banyak kesempatan mendulang pahala bagi suami dan istri, yang tidak didapatkan oleh orang yang belum menikah.
Bagi semua muslim, membaca surat Al Kahfi di hari Jum’at adalah sunnah. “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at,” sabda Rasulullah yang diriwayatkan Al Hakim dan Al Baihaqi serta dishahihkan Al Albani, “maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.”
Tetapi… bagi pasangan suami dan istri, membaca surat Al Kahfi bersama di malam Jum’at, saling menyimak, adalah kenikmatan tersendiri. Pahala sunnah membaca surat Al Kahfi didapat, ketenangan didapat, dan penguatan cinta juga didapat. Sebab –sekali lagi- cinta dalam Islam bukan hanya karena faktor fisik semata (mawaddah), cinta juga memiliki sisi non fisik (rahmah) yang tidak bergantung pada ketertarikan wajah dan tubuh. Beribadah bersama, menunaikan amal shalih bersama, menghidupkan rumah dengan sunnah, adalah penumbuh dan penguat cinta.
Jika membaca surat Al Kahfi dan bersalawat adalah amal sunnah yang bisa ditunaikan siapa saja, ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan kecuali oleh mereka yang sudah menikah. Sebuah amal berpahala besar sekaligus membawa nikmat seketika. Para sahabat sempat terkejut ketika Rasulullah mensabdakan bahwa berhubungan badan dengan istri adalah sedekah. “Wahai Rasulullah, apakah kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?” Rasulullah –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim- pun menjawab: “Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.”
Bahkan, sebagaian ulama berpendapat, “bercinta” di malam Jum’at mendapatkan keutamaan tambahan, selain pahala seperti yang disebutkan Rasulullah tersebut.
“Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendara, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)
Hadits tersebut menggambarkan betapa besarnya balasan pahala bagi orang yang melakukannya. Yakni “bercinta”, mandi, bangun pagi, berangkat awal ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Pahala dalam hadits ini diberikan kepada orang yang melakukan paket enam amal itu, tidak terpisah-pisah. Namun demikian, tergambarlah keutamaan “bercinta” di malam Jum’at.
Memang ada yang berpendapat bahwa sunnah dalam hadits tersebut adalah “bercinta” pada hari Jum’at (pagi), mengingat mandi Jum’at itu dimulai setelah terbit fajar di hari Jum’at. Namun yang lebih populer adalah “bercinta” di malam Jum’at, sedangkan mandinya bisa saja saat terbit fajar sebelum menunaikan Shalat Shubuh berjama’ah.
Abu Umar Basyir di dalam bukunya Sutra Ungu menambahkan, “Di negara yang menerapkan libur pada hari Jum’at, tentu tidak masalah jika seseorang ingin berhubungan seks pada hari itu. Lalu bagaimana di negara yang menetapkan hari Jum’at sama seperti hari-hari kerja lainnya? Bagaimanapun, hukum sunah tetap saja sunah. Jadi itu hanya soal kesempatan melakukannya saja. Jika mampu dilakukan, Insya Allah membawa berkah. Di situlah, manajemen waktu berhubungan seks menjadi perlu diatur. Karena itu bisa saja dilakukan menjelang subuh, atau sesudah shalat Subuh. Tiap pasutri tentu lebih tahu mana saat yang paling tepat.” Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]
(esqiel/bersamadakwah/muslimahzone.com)
Nikmat Menikah: Malam Jum’at, Ya Baca Al Kahfi Bersama Ya Bercinta
Nikmat Menikah: Malam Jum’at, Ya Baca Al Kahfi Bersama Ya Bercinta
Di malam Jum’at misalnya. Ada banyak kesempatan mendulang pahala bagi suami dan istri, yang tidak didapatkan oleh orang yang belum menikah.
Bagi semua muslim, membaca surat Al Kahfi di hari Jum’at adalah sunnah. “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at,” sabda Rasulullah yang diriwayatkan Al Hakim dan Al Baihaqi serta dishahihkan Al Albani, “maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.”
Tetapi… bagi pasangan suami dan istri, membaca surat Al Kahfi bersama di malam Jum’at, saling menyimak, adalah kenikmatan tersendiri. Pahala sunnah membaca surat Al Kahfi didapat, ketenangan didapat, dan penguatan cinta juga didapat. Sebab –sekali lagi- cinta dalam Islam bukan hanya karena faktor fisik semata (mawaddah), cinta juga memiliki sisi non fisik (rahmah) yang tidak bergantung pada ketertarikan wajah dan tubuh. Beribadah bersama, menunaikan amal shalih bersama, menghidupkan rumah dengan sunnah, adalah penumbuh dan penguat cinta.
Jika membaca surat Al Kahfi dan bersalawat adalah amal sunnah yang bisa ditunaikan siapa saja, ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan kecuali oleh mereka yang sudah menikah. Sebuah amal berpahala besar sekaligus membawa nikmat seketika. Para sahabat sempat terkejut ketika Rasulullah mensabdakan bahwa berhubungan badan dengan istri adalah sedekah. “Wahai Rasulullah, apakah kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?” Rasulullah –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim- pun menjawab: “Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.”
Bahkan, sebagaian ulama berpendapat, “bercinta” di malam Jum’at mendapatkan keutamaan tambahan, selain pahala seperti yang disebutkan Rasulullah tersebut.
“Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendara, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)
Hadits tersebut menggambarkan betapa besarnya balasan pahala bagi orang yang melakukannya. Yakni “bercinta”, mandi, bangun pagi, berangkat awal ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Pahala dalam hadits ini diberikan kepada orang yang melakukan paket enam amal itu, tidak terpisah-pisah. Namun demikian, tergambarlah keutamaan “bercinta” di malam Jum’at.
Memang ada yang berpendapat bahwa sunnah dalam hadits tersebut adalah “bercinta” pada hari Jum’at (pagi), mengingat mandi Jum’at itu dimulai setelah terbit fajar di hari Jum’at. Namun yang lebih populer adalah “bercinta” di malam Jum’at, sedangkan mandinya bisa saja saat terbit fajar sebelum menunaikan Shalat Shubuh berjama’ah.
Abu Umar Basyir di dalam bukunya Sutra Ungu menambahkan, “Di negara yang menerapkan libur pada hari Jum’at, tentu tidak masalah jika seseorang ingin berhubungan seks pada hari itu. Lalu bagaimana di negara yang menetapkan hari Jum’at sama seperti hari-hari kerja lainnya? Bagaimanapun, hukum sunah tetap saja sunah. Jadi itu hanya soal kesempatan melakukannya saja. Jika mampu dilakukan, Insya Allah membawa berkah. Di situlah, manajemen waktu berhubungan seks menjadi perlu diatur. Karena itu bisa saja dilakukan menjelang subuh, atau sesudah shalat Subuh. Tiap pasutri tentu lebih tahu mana saat yang paling tepat.” Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]
(esqiel/bersamadakwah/muslimahzone.com)
Nikmat Menikah: Malam Jum’at, Ya Baca Al Kahfi Bersama Ya Bercinta
Nikmat Menikah: Malam Jum’at, Ya Baca Al Kahfi Bersama Ya Bercinta
Di malam Jum’at misalnya. Ada banyak kesempatan mendulang pahala bagi suami dan istri, yang tidak didapatkan oleh orang yang belum menikah.
Bagi semua muslim, membaca surat Al Kahfi di hari Jum’at adalah sunnah. “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at,” sabda Rasulullah yang diriwayatkan Al Hakim dan Al Baihaqi serta dishahihkan Al Albani, “maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.”
Tetapi… bagi pasangan suami dan istri, membaca surat Al Kahfi bersama di malam Jum’at, saling menyimak, adalah kenikmatan tersendiri. Pahala sunnah membaca surat Al Kahfi didapat, ketenangan didapat, dan penguatan cinta juga didapat. Sebab –sekali lagi- cinta dalam Islam bukan hanya karena faktor fisik semata (mawaddah), cinta juga memiliki sisi non fisik (rahmah) yang tidak bergantung pada ketertarikan wajah dan tubuh. Beribadah bersama, menunaikan amal shalih bersama, menghidupkan rumah dengan sunnah, adalah penumbuh dan penguat cinta.
Jika membaca surat Al Kahfi dan bersalawat adalah amal sunnah yang bisa ditunaikan siapa saja, ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan kecuali oleh mereka yang sudah menikah. Sebuah amal berpahala besar sekaligus membawa nikmat seketika. Para sahabat sempat terkejut ketika Rasulullah mensabdakan bahwa berhubungan badan dengan istri adalah sedekah. “Wahai Rasulullah, apakah kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?” Rasulullah –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim- pun menjawab: “Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.”
Bahkan, sebagaian ulama berpendapat, “bercinta” di malam Jum’at mendapatkan keutamaan tambahan, selain pahala seperti yang disebutkan Rasulullah tersebut.
“Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendara, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)
Hadits tersebut menggambarkan betapa besarnya balasan pahala bagi orang yang melakukannya. Yakni “bercinta”, mandi, bangun pagi, berangkat awal ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Pahala dalam hadits ini diberikan kepada orang yang melakukan paket enam amal itu, tidak terpisah-pisah. Namun demikian, tergambarlah keutamaan “bercinta” di malam Jum’at.
Memang ada yang berpendapat bahwa sunnah dalam hadits tersebut adalah “bercinta” pada hari Jum’at (pagi), mengingat mandi Jum’at itu dimulai setelah terbit fajar di hari Jum’at. Namun yang lebih populer adalah “bercinta” di malam Jum’at, sedangkan mandinya bisa saja saat terbit fajar sebelum menunaikan Shalat Shubuh berjama’ah.
Abu Umar Basyir di dalam bukunya Sutra Ungu menambahkan, “Di negara yang menerapkan libur pada hari Jum’at, tentu tidak masalah jika seseorang ingin berhubungan seks pada hari itu. Lalu bagaimana di negara yang menetapkan hari Jum’at sama seperti hari-hari kerja lainnya? Bagaimanapun, hukum sunah tetap saja sunah. Jadi itu hanya soal kesempatan melakukannya saja. Jika mampu dilakukan, Insya Allah membawa berkah. Di situlah, manajemen waktu berhubungan seks menjadi perlu diatur. Karena itu bisa saja dilakukan menjelang subuh, atau sesudah shalat Subuh. Tiap pasutri tentu lebih tahu mana saat yang paling tepat.” Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]
(esqiel/bersamadakwah/muslimahzone.com)
Nikmat Menikah: Malam Jum’at, Ya Baca Al Kahfi Bersama Ya Bercinta
Di malam Jum’at misalnya. Ada banyak kesempatan mendulang pahala bagi suami dan istri, yang tidak didapatkan oleh orang yang belum menikah.
Bagi semua muslim, membaca surat Al Kahfi di hari Jum’at adalah sunnah. “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at,” sabda Rasulullah yang diriwayatkan Al Hakim dan Al Baihaqi serta dishahihkan Al Albani, “maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.”
Tetapi… bagi pasangan suami dan istri, membaca surat Al Kahfi bersama di malam Jum’at, saling menyimak, adalah kenikmatan tersendiri. Pahala sunnah membaca surat Al Kahfi didapat, ketenangan didapat, dan penguatan cinta juga didapat. Sebab –sekali lagi- cinta dalam Islam bukan hanya karena faktor fisik semata (mawaddah), cinta juga memiliki sisi non fisik (rahmah) yang tidak bergantung pada ketertarikan wajah dan tubuh. Beribadah bersama, menunaikan amal shalih bersama, menghidupkan rumah dengan sunnah, adalah penumbuh dan penguat cinta.
Jika membaca surat Al Kahfi dan bersalawat adalah amal sunnah yang bisa ditunaikan siapa saja, ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan kecuali oleh mereka yang sudah menikah. Sebuah amal berpahala besar sekaligus membawa nikmat seketika. Para sahabat sempat terkejut ketika Rasulullah mensabdakan bahwa berhubungan badan dengan istri adalah sedekah. “Wahai Rasulullah, apakah kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?” Rasulullah –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim- pun menjawab: “Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.”
Bahkan, sebagaian ulama berpendapat, “bercinta” di malam Jum’at mendapatkan keutamaan tambahan, selain pahala seperti yang disebutkan Rasulullah tersebut.
“Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendara, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)
Hadits tersebut menggambarkan betapa besarnya balasan pahala bagi orang yang melakukannya. Yakni “bercinta”, mandi, bangun pagi, berangkat awal ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Pahala dalam hadits ini diberikan kepada orang yang melakukan paket enam amal itu, tidak terpisah-pisah. Namun demikian, tergambarlah keutamaan “bercinta” di malam Jum’at.
Memang ada yang berpendapat bahwa sunnah dalam hadits tersebut adalah “bercinta” pada hari Jum’at (pagi), mengingat mandi Jum’at itu dimulai setelah terbit fajar di hari Jum’at. Namun yang lebih populer adalah “bercinta” di malam Jum’at, sedangkan mandinya bisa saja saat terbit fajar sebelum menunaikan Shalat Shubuh berjama’ah.
Abu Umar Basyir di dalam bukunya Sutra Ungu menambahkan, “Di negara yang menerapkan libur pada hari Jum’at, tentu tidak masalah jika seseorang ingin berhubungan seks pada hari itu. Lalu bagaimana di negara yang menetapkan hari Jum’at sama seperti hari-hari kerja lainnya? Bagaimanapun, hukum sunah tetap saja sunah. Jadi itu hanya soal kesempatan melakukannya saja. Jika mampu dilakukan, Insya Allah membawa berkah. Di situlah, manajemen waktu berhubungan seks menjadi perlu diatur. Karena itu bisa saja dilakukan menjelang subuh, atau sesudah shalat Subuh. Tiap pasutri tentu lebih tahu mana saat yang paling tepat.” Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]
(esqiel/bersamadakwah/muslimahzone.com)
Langganan:
Postingan (Atom)






