Cahaya ISLAM
Mencari Titik Terang Kemurnian Islam
Asyura Sebagai Momentum Persatuan Umat
Peringatan untuk mengenang tragedi 10 Muharram
(Asyura) ini sudah sejak lama ada dipelbagai wilayah di Nusantara.
Tragedi 10 Muharram adalah peristiwa terbunuhnya Husain ra di Karbala.
Ketika itu pasukan Yazid berjumlah sekitar 40 ribu memerangi pasukan
cucu baginda Rasulullah saw, Husain ra yang berjumlah 72 orang, sebuah
fakta sejarah yg tidak bisa dipungkiri. Adapun Yazid adalah anak
keturunan dari Bani Umayyah dan ayahnya bernama Muawiyah bin Abi Sufyan,
diklaim oleh para ulama baik Ahlussunnah maupun Syiah bahwa ia seorang
fasik, peminum khamar (bir), penggemar tari-tarian, pemelihara anjing
dan monyet dan berprilaku buruk kepada siapapun.
Ketika itu terjadilah peperangan antar dua
kubu, yakni kubu kebatilan terwakili oleh Yazid dan pasukannya dan kubu
kebenaran terwakili oleh pihak Imam Husain ra, para pengikut dan kerabat
beliau ra.Tidakkah Anda sebagai muslim pembela kebenaran berpihak pada
Husain ra dari cucu Nabi saw. Nabi bersabda, “Husain dariku, dan aku
dari Husain. Husain dariku jelas bahwa ia cucu Nabi saw sedangkan aku
dari Husain adalah risalah beliau saw akan diteruskan melalui perjuangan
Husain di Karbala sebagai pembawa agama Muhammadi. Dengan terbunuhnya
beliau di Karbala bukan berarti sebuah kekalahan, namun akan menjadikan
simbol perjuangan bagi umat setelah beliau bahwa pentingnya perjuangan
utk mengalahkan kebatilan.
Para pengikut Yazid dan Yazid sebagai simbul
keserakahan, kedurhakaan, kebatilan, kemunafikan, fanatisme golongan
Bani Umayyah dsb, sedangkan Husain ra sebagai simbol kebenaran,
ketaatan, ketakwaan, persatuan, kepentingan umat dsbnya. Hingga Nabi saw
bersabda, “Bukan dr golongan kami orang yg menyeru (berdakwah) atas
dasar fanatisme dan bukan dari golongan kami orang yang berperang atas
dasar fanatisme.” Husain ra berkata, “Aku berperang untuk memperbaiki
umat kakekku.” Maka dari itu perjuangan Husain ra untuk kepentingan umat
kakeknya, Rasul saw, bukan atas dasar kepentingan politik pribadinya.
Namun Yazid ketika terbunuhnya Husain ra, dan kepala suci beliau yg
terpotong didatangkan dihadapannya, sambil memukul-mukul gigi depan
beliau dengan tongkatnya, Yazid berkata, “Telah terbalas dendam dari
datuk-datukku (Umayyah), dengan terbunuhnya putra Ali, pengendara kuda
yang pemberani.”
Maka dari itu, akan banyak hikmah yg didapat
dari perjuangan beliau ra di Karbala, yaitu: ketulusan, kesetiaan (para
pengikutnya dengan tidak meninggalkan beliau sendirian sewaktu beliau
membebaskan pengikutnya utk meninggalkan beliau di malam Asyura),
pengorbanan, persatuan, ketakwaan, kesabaran dsbnya.
Bila kita saksikan di Karbala sekarang ini pun,
para peziarah ke makam suci beliau bertambah banyak di tahun 2014
mencapai angka 17 juta lebih peziarah dan tidak hanya terbatas oleh para
peziarah Syiah, Sunni dan bahkan kaum nasrani pun menghormati untuk
menziarahi makam suci beliau (bisa ditelusuri lewat google). Ini
membuktikan penjuangan beliau selalu dikenang dan hidup di sepanjang
masa oleh para pecinta dan pengagum beliau. Mahatma Gandhi mengatakan,
kami terinspirasi melalui penjuangan Husain di Karbala dalam mengusir
penjajah. Imam Khumaini mengatakan tegaknya revolusi Islam Iran berkat
darah para syuhada di Karbala. Tidakkah kita bangga memiliki figur
seorang pejuang heroik, Husain bin Ali bin Abi Thalib yang ayahnya
dikenal sebagai singa padang pasir, pendobrak pintu Haibar, Penebas
leher si kafir Amr bin Abdiwud, Pemimpin pasukan Badar, Hunain, Khaibar,
penebus jiwa suci Nabi ketika beliau saw hijrah ke Madinah, pintu
ilmunya Rasul saw, pembeda kebenaran dan kebatikan, menantu putri Rasul
(manusia termulia di alam semesta), anak dari pembela Nabi saw, terlahir
di pintu Ka’bah, ayah dari Hasan dan Husain (Penghulu para pemuda di
Surga).
Di bagian penutup hendaklah kita menjaga
persatuan umat dengan memperlajari sirah perjuangan Husain ra di
Karbala. Kiranya para ulama kedua firqah Sunni-Syiah dapat membuang
jauh-jauh fanatisme sempit yang disertai egoisme sektoral, agar tercipta
ukhuwah Islamiyah yang hakiki. Karena sesungguhnya Allah SWT tidak suka
kepada siapa pun yang selalu memelihara egoisme, sehingga tidak ada
jaminan akan memperoleh keridaan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar